Sabtu, 05 November 2011

Dongeng untuk Anakmu

Tuhan mulai menjalankan tugasnya
Mengusir matahari dari jangkauan mata kita
Senja mulai turunkan tirainya
Begitu juga kau,
mulai menutup jendela hatimu

Kuurungkan niat awalku tuk bacakan sajakku di hadapmu
Karna aku tahu kau sudah lelah,
karna aku tahu kau mulai payah
Hadang rasa cintaku yang begitu resah,
hadang rasa cintaku yang mulai gelisah
Yang takut akan keadaan,
yang mulai menjauhkanmu dari kenyataan

Lewat kolong pintu rumahmu kuselipkan sajak-sajakku
Kelak bila saatnya tiba,
bacakanlah di hadapan anakmu
Layaknya dongeng sebelum tidurnya,
layaknya lagu nina boboknya

Bacakan..
Lantunkan..

Dan lewat merdu hembus nafasmu,
jangan lupa ceritakan pula sedikit tentangku
Katakanlah:
Wahai anakku,
wahai  embun dalam kemarau panjangku
Nak,
ia bukan ayahmu,
ia juga bukan kekasihku
Bukan juga malaikat pelindungku
Wahai anakku,
wahai perapian ditengah badai saljuku
Ia adalah orang yang sangat mencintaiku,
lebih dari cinta ayahmu kepadaku
Ia adalah orang yang paling tulus menyayangiku,
lebih dari kekasih-kekasihku yang dulu
Dan ia adalah orang yang slalu menjagaku,
tak seperti para malaikat pelindungku yang sering lupa mengawasiku

Dan dengan penasarannya anakmu kan bertanya:
Wahai ibuku,
wahai wanita bermata jingga
Bolehkah aku tahu siapakah orang itu?
Wahai ibuku,
wahai cahaya dalam tiap kedip mataku
Jawablah pertanyaanku,
agar lelap tidurku malam ini

Dari kejauhan,
dalam kesepian,
lewat kerinduan
Aku berbisik:
itu aku!
sang pengais embun disiang hari





Yogyakarta, 28 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar