Jumat, 20 Januari 2012

Kisah Sebuah Ayunan

saat kau kecil, aku selalu mengayunmu disini
ada senyummu pada angin yang halus menyisir rambutmu
ada tawaku pada cubit manjamu ketika dengan sengaja kuayun kau
cepat, dan kau hampir terjatuh dibuatnya

Kamis, 19 Januari 2012

KEPADA EMBUN DI SIANG HARI:

setidaknya dengan pena ini sudah kukutuk kau
menjadi kekasih setia dalam tiap larik sajak-sajakku
tak akan ada matahari yang mampu merebutmu dariku
yang menjadikanmu hujan yang sering datang melaburkan
juga hapuskan namamu yang dengan susah payah kusajakkan

"sudah barang tentu embun hanya menyapaku di pagi hari
namun tidak begitu dengan kau! berteduhlah dalam sajak-sajak ini
hingga matahari tak usil lagi, hingga kelak semua ini akan menjadi dongeng
untuk anak-anak kita nanti"

PERI KECIL

"aku pun ingin sepertimu
sepasang sayap kecil di punggungku"


aku ingat:
dua tahun yang lalu kau dapatkan sayap itu
Tuhan memberinya sbagai hadiah ulang tahunmu
semenjak itu tak ada satu pun penyair yang mampu
menyandingkan sajak-sajaknya dengan indah senyummu

sementara aku:
masih mencoba merakit sayap-sayapku sendiri
sayap yang kubuat dari tiap bulu yang kukumpulkan
yang mulai berjatuhan dari sepasang sayapmu yang lelah
sementara ku siapkan sayapku, beristirahatlah dalam sajakku

GONGGONG

kemarin saya mendengar
gonggongan-gonggongan anjing
yang menyerukan pujian-pujian kepada Tuhan

hari ini saya melihat
anjing-anjing yang sibuk
berebut membersihkan sepatu Tuhan
menjilatinya, berharap belas kasihan-Nya

sayangnya Tuhan tahu:
air liur anjing itu najis

DLS

suatu hari,
mata ini berhasil menangkap wajahmu
di tengah kerumunan wajah yang terkadang menjadi kabut
aku mulai menjadi takut, wajahmu mulai termakan kabut

dikemudian hari,
otak ini berhasil mencatat namamu
di tengah gempuran nama-nama yang mencoba menghapusnya
namamu tetap berpegangan erat, hati ini berhasil kau jerat

aku mulai tak mengenal hari:

aku mulai berkawan dengan pagi
bercerita tentang sebuah mimpi
yang menampakkan wajahmu lagi
yang kuseduh bagai sebuah kopi

DI SEBUAH RANJANG

ada tetes air mata celana dalam
saat kemaluan melompat dari pelukannya
dan berkelana mencari kesenangannya
sementara ia tetap setia menunggunya

:di sebuah ranjang, dimana ia
bertemu celana dalam yang lainnya

PELUKAN

"aku akan terus memelukmu, aku akan terus melindungimu
bahkan dari deras hujan yang mencoba merenggut senyummu
biar aku mati dikeroyok hujan, asal kau tetap hangat dalam pelukku"

:kata celana dalam kepada kemaluan

BERDOA

Tuhan berak!
kotoran-Nya berceceran
di atas tanganku yang menengadah
ya sudah, aku usapkan saja ke seluruh wajahku

MALAM MENDUNG

jalanan sepi
sepeda motor tua terparkir
di depan rumah yang tak berpenghuni
pohon-pohon menatapku, bertanya:
"apa yang akan terjadi"

SEDIKIT (saja) TENTANG HUJAN

hujan sore tadi aku bercerita kepadamu
tentang lelucon asal-usul terjadinya petir
" mungkin itu suara batuknya Tuhan yang sedang sakit flu karena terlalu sering bermain dengan hujan"
:candaku padamu ketika dengan angkuhnya
petir berteriak, mengagetkan kita

hujan sore tadi kau bertanya kepadaku
tentang alasanku begitu mencintai hujan
"karena ketika ku singkap tirai-tirai hujan dengan tanganku, akan terlihat wajahmu yang bersembunyi di baliknya"
:bisik hatiku kepada hujan yang akhirnya
membisu, yang merahasiakan kisah itu padamu