Minggu, 25 Maret 2012

Wanita Embun


"(mungkin) adalah sebuah moment dimana aku baru sadar bahwa aku mencintaimu."


"Nak , memang semua manusia di dunia ini diciptakan Tuhan dari tanah surga yang konon katanya sangat subur. Tanah yang bisa kau tanami tumbuhan apa saja. Bahkan konon katanya di surga sana, pohon yang telah tumbuh tak pernah lelah berhenti berbuah. Juga bunga-bunga yang tak pernah bosan bermekaran, seakan saling ingin menunjukkan siapa yang paling indah diantara mereka. Namun ada beberapa wanita yang tidak Tuhan ciptakan dari tanah seperti yang lainnya. Mereka adalah wanita-wanita pilihan Tuhan, yang beruntung diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Embun-embun yang menyegarkan surga di setiap paginya, di setiap harinya. Dan asal kau tahu nak, konon katanya tanah di surga terkenal subur karena setiap paginya Tuhan tak pernah lupa menyiraminya dengan embun-embun pagi yang sengaja ia jatuhkan dari dedaunan. Dengan nafas-Nya sendiri sengaja Tuhan meniupkan embun-embun agar jatuh dan berlinangan, bagai air mata ibu yang berguguran, tumpah karena luapan  kasih sayang."
Saat aku kecil sebelum tidurku, aku selalu meminta ibu untuk menceritakan dongeng itu. Dongeng tentang wanita-wanita yang diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Entah mengapa dari sekian banyak dongeng yang pernah ibu ceritakan, aku hanya selalu tertarik dengan dongeng tentang wanita embun itu. Pernah ibu bertanya padaku mengapa aku tidak pernah bosan dengan cerita itu. Namun akhirnya ibu hanya tersenyum melihatku hanya bisa diam tertunduk karena tak tahu harus menjawab apa.
"Bu, seperti apa wajah wanita embun yang ibu ceritakan itu? Apakah ia cantik seperti ibu peri yang sering aku lihat di televisi?"
Ibu hanya tersenyum saat melihat kerut di keningku muncul begitu saja karena tak sabar menunggu jawaban darinya. Setelah mengecup keningku dan membelai rambutku, ibu mulai menjawab pertanyaanku.
"Iya nak, ia seperti ibu peri yang sering kau lihat di televisi. Ia sangat cantik dan baik hati. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang terang namun menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan. Seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hatimu ketika kau tersesat di telan kegelapan. Suaranya juga begitu lembut dan menyejukkan. Seperti semilir angin yang mengusap lembut wajahmu, seperti merdu suara bidadari yang menina bobokkanmu. Tapi ia tak punya sepasang sayap putih dan tongkat sihir seperti ibu peri yang kau lihat itu nak. Ia hanya punya senyuman. Ya, hanya dengan senyumannya saja, ia akan dapat mengabulkan semua keinginanmu. Semua keinginanmu, nak."
*****
"War, kamu kenapa diem aja? sakit?"
Suara itu. Suara itu begitu lembut, ia bagaikan semilir angin pagi yang menyapa dedaunan. Aku yang sedari tadi terlelap dalam kenangan masa laluku akhirnya terbangun, ketika suara lembut itu hinggap di telingaku.
"Eh, enggak papa kok yuk. Maaf, sampai mana tadi ya?"
Melihat aku yang begitu susah mencari jawaban, ia hanya tersenyum. Ah, senyum itu. Aku selalu dibuat kagum olehnya. Senyum itu bagai kepak sayap sepasang kupu-kupu yang berterbangan. Senyum itu membuatku lupa akan panas matahari yang sedari tadi menyengatku.
"Yuk, bukunya bagus kan?" Untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku, aku coba tunjukkan kepadanya buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, buku yang baru saja aku beli bersamanya.
"Iya war, bagus. Kan sampulnya meling-meling, hahaha."
"Hahahahaha" Mendengar jawabannya, aku pun jadi ikut tertawa.
Suasana kini dipenuhi dengan tawa. Aku jadi teringat ketika ia bertanya tentang alasanku membeli buku itu. Aku yang sebenarnya sama sekali tidak tahu buku itu, menjawab asal. Saat itu aku bilang kepadanya bahwa aku tertarik membeli buku itu karena sampulnya yang meling-meling.
Kami terus larut dalam canda dan tawa. Di depan kami terhampar lautan motor dan mobil. Setiap detik ada saja yang datang untuk meninggalkan motornya disana, juga setiap detik ada saja yang datang untuk mengambil motornya kembali. Matahari semakin panas menyengat tubuh kami, mungkin ia cemburu melihat kebersamaan kami. Seakan tak peduli dengan kecemburuan matahari, kami terus saja larut dalam canda dan tawa.
Pada sebuah kesempatan, mata kami bertemu. Aku baru sadar, ternyata mata itu sama saja seperti senyumannya. Mata itu begitu bulat dan indah, mengingatkanku pada kelereng warna-warni di masa kecilku. Dulu aku sangat senang mengumpulkan kelereng-kelereng yang berwarna indah. Namun, dari sekian banyak koleksi kelerengku, tentu saja tidak ada satupun kelereng yang seindah matanya.
Mata itu sama dengan mata wanita embun yang dahulu pernah ibu ceritakan. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan, seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hati ketika kita takut saat tersesat di telan kegelapan. Matanya adalah senja, redup sinarnya namun begitu menghangatkan. Senja adalah matanya, lembut sinarnya membawaku hanyut dalam sebuah kenangan.
*****
"Nak, mungkin suatu saat nanti kau akan bertemu dengannya, seorang wanita yang Tuhan ciptakan dari embun surga. Jika kau bertemu dengannya, jagalah ia baik-baik. Ia bagaikan hujan yang menghapus kemarau panjang. Ia adalah setetes embun yang akan menyelamatkanmu dari dahaga kehidupan. Jagalah ia nak. Jangan sampai panas matahari menguapkannya, dan menjadikannya hujan pada tiap sudut matamu."
*****
"War, kamu kenapa lagi?"
Sekali lagi suara lembut itu menyadarkanku. Aku tersenyum melihatnya. Aku tersenyum ketika melihat ribuan kunang-kunang yang berhamburan dari tiap sudut matanya. Ribuan kunang-kunang itu terbang menghampiriku. Mereka menyeretku, membawaku terbang ke dalam kenangan dongeng masa kecilku.
"Eh, enggak papa kok yuk. Aku hanya teringat janjiku kepada ibu."
"Ha? Janji apa war?"
"Janji untuk menjaga seorang wanita embun yang suatu saat nanti kutemui."
"Ha? Wanita embun? Apa itu war?"
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Ribuan kunang-kunang kembali menyeretku terbang ke dalam kenangan dongeng masa kecilku.
*****
Sepasang Kekasih Dalam Sebuah Buku Dongeng
-kepada Ayuningtyas

sayang, kita harus ingat
kita hanyalah sepasang kekasih
yang terkurung dalam sebuah buku dongeng
menanti rengekan seorang bocah
yang minta dibacakan cerita oleh ibunya
sebagai pengantar tidur

tak ada yang istimewa dari kisah kita
seperti biasa: seorang miskin yang berharap
cinta dari sang putri raja
tak ada yang istimewa dari cerita kita
seperti biasa: bocah itu tertidur
sebelum habis cerita kita dibacakan ibunya

tak ada yang istimewa dari hari-hari selanjutnya
seperti biasa: kita menanti untuk dibaca
kita menangis karena tak selesai dibaca
tak ada yang istimewa dari hari-hari berikutnya
seperti biasa: kita menanti untuk dibaca
kita menanti di halaman mana kita berjumpa


23 Maret 2012
Selamat ulang tahun ya mbun :)

Kamis, 15 Maret 2012

Buat Adek yang Minggu Lalu Nongkrong di Mimpiku

"tak ada lagi wajahmu yang menjadi kuning kemerah-merahan"




halo dek apa kabar kamu? emh, pasti baik-baik saja hehehe semoga. amin.

halo dek udah makan belum? emh, makannya yang teratur ya dek biar kamu sehat dan ngak gampang sakit hehehe.

halo dek udah shalat belum? emh, shalat yang rajin ya dek sebelum aku shalatin hahahaha cuma bercanda lho dek. kalau
pun ntar kamu dishalatin, pasti aku juga ikut dishalatin di sampingmu hahahaha.

bercandaku serem ya dek? seserem apa? emh, apa seserem suara harimaumu yang membuat aku takut jika suatu hari telingaku hilang digondol anjing sehingga aku tak dapat mendengar suaramu lagi? apa seserem senyum taring harimaumu yang membuat aku takut suatu hari nanti mataku copot jatuh ke sungai sehingga tak dapat melihat senyummu lagi? ah adekku sayang, aku jadi membayangkan jika suatu hari nanti aku menjadi seorang buta.

suatu hari aku melihat sebuah pemandangan yang sangat mengharukan bagiku. aku melihat seorang istri yang sabar menggandeng suaminya yang buta, berjalan-jalan menikmati senja. si istri terus saja memegang erat lengan suaminya. erat! erat sekali! seperti seorang anak kecil yang terus saja memegangi mainan barunya karena takut mainannya hilang dicuri temannya. juga dengan sabarnya si istri rela memperlambat langkahnya demi menyeiramakan dengan langkah suaminya yang terkadang goyah. ya, langkah suaminya mungkin sudah tidak segagah saat awal mereka bertemu. ya, suaminya yang mungkin dulu ia cintai karena langkahnya yang gagah, kini seringkali menjadi mudah goyah meski hanya karena terkaget dengan suara langkah anak-anak kecil yang berlarian di depan mereka, atau deru mobil yang tiba-tiba dengan angkuhnya menyalip langkah mereka.

ah adekku sayang, namun percayalah, sama sekali tak ada wajah penyesalan atau pun sedikit saja kesedihan yang muncul dari wajah si istri yang saat itu menjadi kuning kemerah-merahanan karena terkena muntahan sinar senja.

ah adekku sayang, adakah di hatimu kau bertanya mengapa aku ceritakan kisah ini padamu? apakah aku ingin menjadi seorang buta yang kau gandeng kemana-mana? ah bukan. sama sekali bukan begitu dek.

aku masih ingin terus melihat. aku masih ingin terus melihat wajahmu. senyummu. wajah senja. senyum senja. juga wajahmu yang menjadi kuning kemerah-merahan saat senja datang dan mulai menelan tubuh kita. sampai habis. sampai kita ditelan dan dimasukkan ke dalam perut kegelapan malam. tak ada lagi wajahmu yang menjadi kuning kemerah-merahan. yang ada hanya senyummu dan sorot matamu yang akhirnya menjadi jalan penunjuk arah kita pulang.

halo dek apa kabar kamu? emh, pasti baik-baik saja hehehe semoga. amin.

halo dek udah makan belum? emh, makannya yang teratur ya dek biar kamu sehat dan ngak gampang sakit hehehe.

halo dek udah shalat belum? emh, shalat yang rajin ya dek. aku juga bakal shalat yang rajin kok. soalnya aku mau terus berdoa supaya kamu suatu saat nanti mau pergi menikmati senja bersamaku hahahaha dan catatan ini ku akhiri dengan "amin".

Rabu, 14 Maret 2012

PADA JENDELA KAMARMU


"hujan yang mengetuk jendela kamarmu"



Sebelum kita terlalu larut dalam basa basi yang terlampau basi, izinkan aku mengecup
keningmu sebelum kecupan malam kemarin hilang tersapu angin.
Jika tak dapat kau raba lagi jejak langkahku pada tanah basah setelah hujan
malam ini reda, maka tidurlah dan biarkan dingin pagi yang esok membangunkanmu.
Lalu begegaslah kau singkap tirai jendela kamarmu karena sudah kutitipkan pesan
pada rintik hujan yang menetes pada kaca jendela itu.

Sebelum kita terlalu larut dalam basa basi yang terlanjur basi, juga sebelum kau bosan
dengan kecupan-kecupanku yang lekas hilang terhapus angin, maka kutuliskan
puisi cintaku ini lewat rintik hujan pagi yang menetes pada kaca jendela kamarmu. Tak usah
kau takut jika puisi itu hilang tersapu angin, karena akan kukirimkan puisi-puisi cintaku
yang lainnya. Seperti biasa: lewat rintik hujan di pagi hari, atau sesekali lewat deras hujan di
malam hari. Saat kau dengar hujan yang mengetuk jendela kamarmu, bukalah, dan biarkan aku
masuk sebelum angin menyapuku.

Hilang.


                                                                                                              

                                                                                                               Yogyakarta, 13 Maret 2012

Sabtu, 10 Maret 2012

Buat Adek yang Semalem Nongkrong di Mimpiku

"jika adek itu adalah pisang molen, tentu saja ia adalah pisang molen yang paling manis sedunia"


Untuk yang kedua kali, semalem adek itu nongol lagi di mimpiku. Entah bagaimana bisa ia nongol begitu saja tanpa izin terlebih dahulu. Padahal untuk bisa masuk ke dalam mimpiku, seorang wanita harus membuat proposal terlebih dahulu dengan tanda tangan RT, RW, dan disertai foto copy KTP, KTM atau kartu pelajar, juga SIM dan STNK. Hahaha ribet sekali bukan? Maka dari itu, akhir-akhir ini jarang sekali seorang wanita muncul dalam mimpiku. Tapi kenapa adek yang satu ini bisa muncul begitu saja? Jujur saja aku tidak tahu jawabannya.

Pokoknya ceritanya begini:
Saat itu di dalam mimpiku hujan deras sekali. Tahu-tahu aku bertemu dengan adek itu...

Sebelum melanjutkan ceritanya, aku ingin sedikit bercerita tentang adek itu:
1. Pertama kali bertemu dengannya, aku sempat dibuat kaget ketika mendengar suaranya. Suaranya berat dan agak serak-serak 'becek' (mungkin karena sedang musim hujan). Suaranya berat seperti suara seorang pria dewasa, dan juga serak seperti auman harimau afrika. Aku sempat ragu apakah ia memang benar seorang wanita tulen. Sebenarnya aku ingin melihat KTPnya dan memeriksa jenis kelamin yang tertulis disana. Apakah seorang wanita? Apakah seorang lelaki yang menyamar menjadi seorang wanita? Tapi aku urungkan niatku untuk memeriksa KTPnya. Aku takut dikira pegawai sensus penduduk. Namun di atas segala pertanyaan yang tak terjawab, suaranya yang kelelaki-lakian dan keharimau-harimauan, juga gigi gingsulnya yang seperti taring itu memaksaku untuk memanggilnya "Siluman Harimau Wanita".

2. Adek itu selalu membuatku lapar. Karena saat melihat wajahnya yang bulet itu, entah mengapa aku selalu terbayang-bayang pisang molen. Hahaha perbandingan yang terlihat sangat kejam. Namun, asal kalian tahu: jika adek itu adalah pisang molen, tentu saja ia adalah pisang molen yang paling manis sedunia hahahahaha.

Lalu bagaimana kelanjutan cerita di mimpiku?Waduh, saking asyiknya mendeskripsikan adek itu aku jadi lupa bagaimana kelanjutan kisahnya. Hahaha sebenarnya aku ingin mengingat-ingatnya dan menuliskannya disini, tapi berhubung aku harus mandi pagi karena kuliah jam 7 pagi, aku terpaksa mengakhiri tulisan ini.

Untuk dek *****
Keterangan: '***** ' bukanlah samaran untuk nama 'Mawar', karena seperti yang kalian sudah ketahui: sekarang Mawar sudah menjadi miliknya Marwan.

#1


*****
"Nak , memang semua manusia di dunia ini diciptakan Tuhan dari tanah surga yang konon katanya sangat subur. Tanah yang bisa kau tanami tumbuhan apa saja. Bahkan konon katanya di surga sana, pohon yang telah tumbuh tak pernah lelah berhenti berbuah. Juga bunga-bunga yang tak pernah bosan bermekaran, seakan saling ingin menunjukkan siapa yang paling indah diantara mereka. Namun ada beberapa wanita yang tidak Tuhan ciptakan dari tanah seperti yang lainnya. Mereka adalah wanita-wanita pilihan Tuhan, yang beruntung diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Embun-embun yang menyegarkan surga di setiap paginya, di setiap harinya. Dan asal kau tahu nak, konon katanya tanah di surga terkenal subur karena setiap paginya Tuhan tak pernah lupa menyiraminya dengan embun-embun pagi di dedaunan. Dengan nafas-Nya sendiri sengaja Tuhan meniupkannya agar jatuh dan berlinangan, bagai air mata ibu yang berguguran, tumpah karena luapan  kasih sayang."
Saat aku kecil sebelum tidurku, aku selalu meminta ibu untuk menceritakan dongeng itu. Dongeng tentang wanita-wanita yang diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Entah mengapa dari sekian banyak dongeng yang pernah ibu ceritakan, aku hanya selalu tertarik dengan dongeng tentang wanita embun itu. Pernah ibu bertanya padaku mengapa aku tidak pernah bosan dengan cerita itu. Namun akhirnya ibu hanya tersenyum melihatku hanya bisa diam tertunduk karena tak tahu harus menjawab apa.
"Bu, seperti apa wajah wanita embun yang ibu ceritakan itu? Apakah ia cantik seperti ibu peri yang sering aku lihat di televisi?"
Ibu hanya tersenyum saat melihat kerut di keningku muncul begitu saja karena tak sabar menunggu jawaban darinya. Setelah mengecup keningku dan membelai rambutku, ibu mulai menjawab pertanyaanku.
"Iya nak, ia seperti ibu peri yang sering kau lihat di televisi. Ia sangat cantik dan baik hati. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang terang namun menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan. Seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hatimu ketika kau tersesat di telan kegelapan. Suaranya juga begitu lembut dan menyejukkan. Seperti semilir angin yang mengusap lembut wajahmu, seperti merdu suara bidadari yang menina bobokkanmu. Tapi ia tak punya sepasang sayap putih dan tongkat sihir seperti ibu peri yang kau lihat itu nak. Ia hanya punya senyuman. Ya, hanya dengan senyumannya saja, ia akan dapat mengabulkan semua keinginanmu. Semua keinginanmu, nak."
*****