Sabtu, 05 November 2011

Cairan Bening dari Mata Ibu

 :kepada wanita yang dimuliakan Tuhan


 "Biasakan awali kegiatan-kegiatanmu dengan Bismillah dan sesudah itu akhiri dengan Alhamdulillah."
Aku lupa berapa umurku saat itu, tapi aku masih ingat kata-kata ayahku ketika saat itu beliau menasehatiku yang hendak berpamitan untuk berangkat sekolah. Kini sudah sekitar 19 tahun lebih aku mengenalnya dan pastinya aku sangat mempercayainya, tentu saja juga dengan nasehat beliau waktu itu. Lagi pula kata ibuku aku ini adalah anak yang sangat penurut, walaupun kadang-kadang katanya aku juga sangat suka menuntut. Tapi ibuku tidak pernah marah jika terkadang aku sudah sangat keterlaluan, karena memang beliau adalah ibu yang sangat penyabar dan pemaaf. Tapi jangan pernah sekali-kali mencoba menembakkan kentut di wajahnya, karena itu adalah satu-satunya hal yang akan membuatnya marah. Baginya itu sudah sangat melewati batas.
Sejak mulai nasehat itu berkumandang dari mulut ayahku, mulai saat itu juga aku selalu membiasakan diri mengawali berbagai kegiatanku dengan "Bismillah". Tentunya jika aku mengingatnya, mengingat wajah galak ayahku yang memarahiku seandainya beliau tahu aku tak mematuhi nasehat itu. Tapi aku ingat, selalu saja ada alasan yang membuatku lupa untuk mengakhiri berbagai kegiatanku dengan "alhamdulillah". Entah apa itu alasannya tapi aku sungguh tak bisa mengingatnya. Dan tolong jangan sekali-kali paksa aku untuk mencoba mengingatnya, karena walaupun aku ini penurut tapi aku sungguh bukanlah orang yang suka dipaksa.
 Aku ingat ketika itu aku pernah melempar wajah ibuku dengan gelas. Waktu itu beliau memaksaku berobat ke rumah sakit karena tiba-tiba saja ada cairan merah kehitam-hitaman yang meluncur deras dari kedua lubang hidungku. Jujur saja aku sangat takut jika mendengar kata "rumah sakit", karena seketika itu juga terbayang padaku senyum sadis bapak dokter yang senang sekali melihat wajah pasiennya saat menangis kesakitan. Aku sangat ingat dengan kejadian itu, saat itu aku memang menangis kesakitan saat pak dokter dengan sengaja menggunting sedikit bibir kemaluanku. Dan aku bertambah jengkel saja ketika melihat ayah yang berdiri di sampingku justru tersenyum bangga melihatku tersiksa, katanya sekarang aku sudah dewasa. Aku terheran-heran begitu lama, dan seketika bermunculan berjuta pertanyaan di kepalaku ini. Lalu ayah tertawa terbahak-bahak ketika dengan polosnya aku bertanya apa hubungannya antara kedewasaan dengan bentuk "baru" kemaluanku. Dan aku bertambah jengkel saja ketika keingin tahuanku itu malah disepelekannya.
Lamunan tentang masa lalu itu sekejap hilang ketika aku melihat ada cairan yang sama dengan cairan yang keluar dari kedua hidungku yang keluar juga dari jidat ibuku yang menjadi sasaran tembak gelasku. Aku jadi merasa sangat bersalah kepadanya, aku coba meminta maaf dan menjelaskan alasanku itu kepadanya. Ibuku hanya tersenyum, mengangguk, lalu memelukku. Ibuku tidak marah sama sekali karena memang hanya sebuah letusan kentut di wajahnya saja lah yang akan membuatnya marah.
Lama sekali ibu memelukku dan jujur saja aku juga tak keberatan dipeluk ibu lama-lama. Aku justru senang. Walaupun umurku sudah 19 tahun lebih tapi aku tetap saja suka dipeluk ibu, karena hanya saat dipelukannya saja aku bisa membayangkan bagaimana indahnya surga. Surga yang dulu sering pak guru agama ceritakan kepadaku. Kata beliau surga itu sangat indah. Ada ininya, ada itunya, ada anunya, pokoknya semua yang indah-indah ada disitu. Aku menjamin bahwa semua orang pasti ingin pergi kesurga, ya paling tidak orang-orang yang sudah mendengar keindahannya dari cerita pak guru agama itu. Meskipun banyak teman-temanku yang tidak percaya pada cerita itu tapi aku tetap saja percaya, karena beliau yang bercerita adalah pak guru agama.
Pertama: Pak guru agama tak akan mungkin berbohong, karena pak guru agama selalu rajin shalat dan puasanya tak pernah bolong seperti gigi pak guru yang mulai ompong. Kedua: Pak guru agama pasti selalu berbicara jujur dan benar, karena jika setiap selesai berwudlu wajahnya selalu bersinar. Ketiga, yang terakhir, dan yang paling penting: Menurutku pak guru agama pasti pernah pergi kesurga, makanya dia bisa menceritakan dan menjelaskan bagaimana suasana di sana.
 Tiba-tiba saja ada sesuatu yang memaksaku keluar dari lamunanku tentang surga dan pak guru agama. Bahuku terasa sangat hangat ketika saat itu tertumpah begitu saja tetes demi tetes cairan dari kedua sudut mata ibuku. Cairan itu sangat jernih dan berkilauan, tidak seperti cairan amis menjijikkan yang keluar dari kedua hidungku ini. Cairan itu meluncur deras lewati kedua pipi ibu dan akhirnya tepat bermuara di bahu kananku, di tempat di mana ibu menenggelamkan wajahnya. Saat itulah pertama kali aku melihat ibu menangis. Dan bukan hanya tertumpah dan membasahi bahu kananku saja, namun juga tertumpah dan membasahi buku catatan si Malaikat Roqib. Semua catatannya hilang, semua catatan tentang amal baikku selama ini.
Tiba-tiba ada sesuatu yang memaksaku untuk kembali menenggelamkan diri di alam lamunku. Namun kali ini bukan tentang keindahan surga yang sering diceritakan oleh pak guru agama, kali ini yang terlihat adalah kejamnya api neraka yang sedang membakar pak guru agama di dalamnya. Aku menjerit, aku ketakutan. Aku minta tolong, namun disana hanya ada aku, pak guru agama, dan malaikat besar berjubah hitam yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat aku dan pak guru agama ketakutan. Api neraka sangat begitu panas dan memaksa mataku menumpahkan cairan-cairan yang sama seperti cairan yang keluar dari kedua sudut mata ibuku.
Aku berontak dan memaksa keluar dari alam lamunku. Aku tinggalkan pak guru agama di sana bersama malaikat besar berjubah hitam yang menyeramkan. Aku berhasil kembali ke alam nyata dan mataku berhasil menangkap kembali wajah ibu. Aku usap sisa cairan jernih di kedua pipinya dengan tanganku, lalu aku kecup mesra keningnya. Ibuku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku tenggelamkan wajahku di bahu kiri ibuku dan aku biarkan cairan-cairan dari mataku ini tertumpah dan membasahinya. Karena aku berharap bukan hanya tertumpah dan membasahi bahu kirinya saja, namun juga tertumpah dan membasahi buku catatan si Malaikat Atid. Agar semua catatannya hilang, semua catatan tentang amal buruk ibuku selama ini.
"Alhamdulillah....."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar