Minggu, 27 November 2011

Jam Sepuluh Malam


sudah lewat tiga jam
dari jam sepuluh malam
waktu yang begitu sering
kuucapkan padamu

"kau tidak boleh
tidur lebih dari
jam sepuluh malam"
begitulah yang kuucapkan
padamu
setiap malam
setiap hari
begitu juga malam ini

padahal saat ini
aku belum tertidur juga
masih saja teringat jawabmu
"aku jarang bermimpi"
begitulah jawabmu
ketika kuucapkan
"semoga mimpi indah"

terang saja kau jarang bermimpi
karena tanpa kau sadari
sering kali tanpa permisi
kau menjelma menjadi mimpi indahku
tanpa kau sadari
kau telah menjadi mimpi itu sendiri

dan malam ini
aku biarkan diri ini tetap terjaga
takkan kubiarkan dirimu menjelma
menjadi mimpi indahku lagi
karena malam ini
aku ingin menjelma menjadi mimpimu

dan esok hari
ketika kau telah terjaga
kau kan berkata
"semalam aku mimpi indah"

Yogyakarta, 26 November 2011

Kamis, 10 November 2011

Iseng-iseng Menyesatkan

Azwar Rizky Syafrudin
10201241065/PBSI L



END!!!

Perkenalkan, Aku adalah Tuhan. Tapi tak usahlah kalian bertanya, Aku ini Tuhan siapa, Aku ini Tuhan dari agama yang mana. Pokoknya, Aku ini Tuhan. Tuhan dari segala umatKu, Tuhan bagi orang-orang yang mau mempercayaiKu. Tak usah juga kalian berdebat tentang Tuhan siapa yang paling kuat, tentang Tuhan siapa yang paling hebat, karena Kami (Aku dan Tuhan dari segala agama) sebenarnya adalah teman yang sangat akrab, saling menghargai dan sering silaturahmi ke surga masing-masing. Asal kalian tahu, Kami para Tuhan sering tertawa ngakak ketika melihat kalian beradu mulut, bertengkar dan saling bakar hanya karena pendapat kalian yang berbeda tentang siapa yang paling benar diantara Kami. Padahal Kami di atas sini hidup rukun dalam bertetangga. Walaupun ajaran Kami berbeda, namun tak pernah ada rasa iri, dendam, maupun dengki diantara Kami. Dalam masalah luas dan perbatasan Surga juga sudah Kami atur secara adil, sesuai dengan undang-undang yang terbaru. Meskipun Kami Tuhan, tapi Kami tetap patuh pada hukum. Tidak seperti kalian, serakah dan tidak pernah mau mengalah, oleh karena itu Kami sering marah-marah. Untung saja Kami anti darah tinggi.
Kegiatan sehari-hariku adalah bermain tanah liat. Membentuknya menjadi seorang manusia lalu menitipkannya di rahim seorang wanita. Itu adalah salah satu hobiKu, entah kepada wanita yang belum menikah, atau kepada wanita yang sudah menikah secara sah. Tapi sekarang teknologi makin canggih. HobiKu sering digagalkan oleh alat yang bernama kondom. Alat yang sering digunakan oleh golongan yang belum menikah.
****
21 Maret 1992 adalah hari kelahiran salah satu hasil karya terbaikKu. Senyum bahagia terbentang luas dari wajah wanita tua miskin yang rahimnya Kupilih sebagai tempat penitipan karyaKu. Wanita tua itu memberinya nama Rahmad Santosa, berharap agar anaknya selalu Kuberikan kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Layaknya seorang anak kecil yang senang karena mendapatkan mainan impiannya, wanita tua itu begitu bahagia ketika diizinkan menimang bayinya.
“Tuhan, sungguh anak ini begitu tampan. Mirip seperti Ayahnya. Tapi, semoga saja nasibnya tidak seperti Ayahnya yang malang.”
Dalam hati, wanita tua itu berdoa. Aku mendengarnya. Kali ini, Aku akan mengabulkannya.
****
Matahari mulai mengintip dari seberang lautan. Tatapan matanya menerawang jauh sampai ke seluruh sudut desa. Embun yang sedari tadi duduk santai di atas dedaunan kini tampak gelisah menunggu ajalnya yang akan tiba sesaat lagi. Dari sudut yang lain, kokok ayam jantan mulai bersautan sebagai pertanda akan dimulainya orkestra kehidupan.
Sedari bulan masih menguasai malam, mata Rahmad kecil tetap terjaga. Terdengar lagi di telinganya percakapan para tetangga yang kemarin tak sengaja didengarnya. Rahmad ingin sekali melupakan apa yang sudah didengarnya. Tapi semakin ia mencoba melupakannya, semakin betah saja suara itu berteduh di telinganya.
“Aku yakin Ayah belum mati. Ayah hanya menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Aku akan tetap menunggu datangnya hari dimana aku akan bertemu dengannya untuk yang pertama kali.”
Rahmad kecil mencoba berbagi kesedihannya kepada dinding kayu tua yang sedari tadi khusyuk mendengarkannya. Namun setiap kali ia menuntut jawaban, tak pernah ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut kawan setianya itu. Yang terdengar, hanya suara tangis.
“Wahai dinding kayu tua sahabatku, wahai pelindung setiap resah dan lelahku. Janganlah kau ikut bersedih. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu dengan keluh kesahku selama ini. Bagiku, sudah cukup bahagia karena selama ini kau selalu bersedia mendengarkanku. Kau janganlah ikut menangis, wahai dinding tua sahabatku.”
Sekali lagi, Rahmad kecil mencoba berbicara kepada dinding kayu tua sahabatnya yang sedang menangis. Akhirnya Rahmad berhasil. Tak lama kemudian, suara tangis dinding kayu tua sahabatnya tak terdengar lagi. Ibu yang sedari tadi mengintipnya lewat celah luka kawannya itu, kini telah pergi. Ibu benar-benar tak kuasa menahan tangis. Ketika mendengar tangis sedih batin anaknya, ribuan panah tertancap mesra di hati Ibu, kemarau panjang hinggap begitu saja di tenggorokannya, badai salju membekukan semua sendi tulangnya, dan menghentikan setiap aliran darahnya. Ibu hanya bisa terdiam di kamarnya. Banjir dari kedua sudut matanya semakin deras, dan akhirnya membentuk aliran sungai di kedua pipinya. Hati Ibu semakin perih. Terlintas sekali lagi, senyum lembut suaminya dihari terakhir mereka dapat bertemu.
****
“Yang mulia Tuhan, ini adalah hasil catatan amal Rahmad selama 17 Tahun sudah hidup di dunia.”
Dua Malaikat kembar pencatat amal baik dan buruk menyerahkan hasil laporan catatan kelakuan Rahmad selama 17 Tahun hidupnya.
“Waw! Amazing!
“Bagaimana yang mulia Tuhan? Sangat memuaskan bukan?”
“Ya, Aku sangat bangga kepadanya. Ia benar-benar tumbuh sebagai anak yang baik. Ehm, apa sebaiknya ia Aku angkat saja menjadi seorang Nabi?”
“Oh, sepertinya jangan yang mulia Tuhan. Pastinya itu semua akan membuat geger para penghuni bumi. Saya yakin, pasti Rahmad akan dibakar hidup-hidup karena dianggap sesat. Pasti di bumi akan semakin ramai juga terjadi teror bom dimana-mana.”
Aku terdiam sejenak. Usul mereka memang benar, apalagi di bumi memang sedang ngetrend-ngetrendnya lempar-lemparan bom. Sudahlah, Aku urungkan niatku saja.
****
Setelah dirasa sudah cukup dewasa, akhirnya Ibu menceritakan kejadian yang selama ini ia tutup-tutupi kepada Rahmad. Kali ini Rahmad tak menangis ketika mendengar kenyataannya, memang Ayahnya sudah mati diterjang ganasnya ombak. Rahmad hanya tersenyum, lalu memeluk dan mencium kening Ibunya yang tak kuasa menahan tangis. Ibu pun tersadar, kini anaknya telah benar-benar menjadi  seorang lelaki yang dewasa.
Di desanya Rahmad terkenal sebagai lelaki yang pendiam. Ia tidak mempunyai banyak teman. Bukan karena tidak ada yang mau berteman dengannya, namun memang Rahmad terlalu sibuk melaut. Mencari ikan untuk dijual dan disisakannya sedikit untuk lauk makan di rumah. Setelah Ibunya semakin tua dan sering sakit-sakitan, kini Rahmad benar-benar menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
****
“Yang mulia Tuhan, bolehkah Kami bertanya?”
Dua Malaikat kembar itu nyelonong saja masuk ke ruang kerjaKu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Mau Tanya apa lagi? Lain kali kalau mau masuk ketuk pintunya dulu! Mana tidak pakai salam dulu kalian ini. Wah wah, sudah mulai terkontaminasi polah-polah manusia kalian ini sepertinya.
“Waduhhhhhhhh, maaf deh yang mulia Tuhan. Kami janji deh tidak akan mengulanginya lagi.”
“Oke deh kali ini Aku maafkan. Oh iya, mau tanya apa lagi kalian?”
“Begini yang mulia Tuhan, jujur saja kami ini sangat penasaran. Kami penasaran apakah akhirnya nanti Rahmad akan Engkau tempatkan di surga atau di neraka?”
“Lhoh ya pastinya di surga dong. Tapi…. “
“Tapi apa yang mulia Tuhan?”
“Tapi akan Kuberikan ia cobaan yang sangat berat dulu.”
“Cobaan apa yang mulia Tuhan? Mengapa kau tega member cobaan kepada orang yang sbegitu baik sepertinya?”
“Yeeeeee! Ya terserah gue dong! Kan gue Tuhannya, kenape jadi elu yang sewot? Pokoknya mulai sekarang, elu.. gue.. END!”
****
Malam telah tiba, kini giliran bulan dan pasukan bintangnya yang selalu setia menjadi anggota tetap ronda malam. Pencuri atau bahkan babi ngepet sekali pun, pasti tak akan luput dari pengawasan mereka. Tapi malam ini akan datang satu-satunya pencuri kejam yang sanggup meloloskan diri dari pengawasan ketat bulan dan bintang. Pencuri yang sengaja aku kirimkan ke desa ini. Malaikat pencabut nyawa.
Saat semua warga desa telah tertidur pulas, aku kirimkan ombak besar yang biasa dipanggil tsunami yang  sanggup menelan habis semua isi desa. Malaikat pencabut nyawa Aku berikan kebebasan untuk memilih manusia yang mana saja yang mau Ia cabut nyawanya. Asal jangan Rahmad.
Ombak semakin ganas melahap semua isi desa. Malaikat yang Ku kirim juga semakin ganas mencabuti nyawa-nyawa para penduduk desa. Sampai akhirnya rata sudah seluruh desa dengan tanah. Tak ada rumah yang tersisa. Semua mati, kecuali Rahmad yang sengaja Aku selamatkan dengan kekuatanKu.
****
Setelah pingsan cukup lama, akhirnya Rahmad sadar juga. Ia langsung menangis ketika disampingnya ia lihat jasad Ibunya yang sudah terbujur kaku bersama dengan orang-orang yang taka sing baginya. Kini, ia bagai gembala kecil yang kehilangan jejak dari kawan-kawan yang telah terlebih dahulu pulang meninggalkannya. Kini, ia tak tahu harus pulang kemana. Kini tak ada lagi kawannya, dinding kayu tua yang dulu selalu setia mendengarkan cerita-ceritanya. Yang ada hanya rumput yang bergoyang, rumput yang meliuk-meliukkan tubuhnya. Nyata sekali, rumput sedang mengejek nasib Rahmad.
****
“Hei Malaikat pencabut nyawa! Kemarilah!”
“Ada apa wahai yang mulia Tuhan?”
“Sudahlah, sana cabut saja nyawa Rahmad!”
“Lhoh kenapa? Bukannya ia adalah hasil karya kesayanganMu?
“Ahhhh, Aku bosan! Aku bosan melihatnya menangis dan menangis terus. Lagi pula juga sudah Kusiapkan tempat kelas VIP di surga bersama dengan kedua orang tuanya.”
“Baiklah. Lalu harus dengan cara apa Aku mencabut nyawanya? Mau pakai cara yang kasar atau yang sangat kasar?”
“Hemmmmmmmm, terserah Kamu deh. Pokoknya sampein aje salamKu buat die. Bilangin aje kalo elo.. gue.. END!!!”
derap langkah kaki terdengar jelas di telingaku
begitu keras
begitu jelas
begitu dekat
hingga akhirnya tak terdengar lagi
begitu juga dengan suara tangis kalian yang mencoba membangunkanku

oh iya aku lupa
judul puisi ini:


IZRAIL





                                                                                                                  Yogyakarta, 10 November 2011

PAYUNG


-buat hasan, uswatun, dan prita



Jaman sekarang
semakin susah mencari payung
Padahal
hujan sedang gemar-gemarnya
mengeroyok tubuh kita

Di sekolah
kepada pak guru aku bertanya,
"dimana payung berada?"
Tapi dengan entengnya pak guru menjawab,
"aku tidak tahu"

Sesampainya dirumah,
kepada ibu aku bertanya
Dan pertanyaannya masih sama,
"dimana payung berada?"
Tapi dengan lebih entengnya ibu menjawab,
"pak guru saja tidak tahu, apalagi ibu"

Kemarin siang hari
tak ada matahari
Matahari takut
dan bersembunyi,
karena ia tahu
hujan akan datang lagi

Akhirnya hujan datang juga
Kali ini
dengan pasukannya yang lebih banyak
dan sambil membawa pedang di tangannya,
mereka siap menghajar kita
Padahal,
aku belum punya payung

Tapi bersama kau,
kau,
dan kau
aku tak butuh payung lagi
Aku tak perlu takut
karena ada kalian
yang selalu menemani
Dan ternyata,
memang tak ada setetes hujan pun
yang berhasil menyentuh tubuh kita
Sampai akhirnya hujan lelah
Mereka menyerah

Dan setelah mereka pergi
matahari pun nongol lagi
Bukan dari lagit,
tapi dari senyum dan tawa kalian
Dan saat itu,
aku merasa sangat hangat
"terimakasih"

Aku tak butuh payung lagi.





Yogyakarta, 10 November 2011
memori perpus kota-candi sojiwan

Hujan Malam Ini



deras hujan
tak pernah tinggalkan goresan luka
pada daun yang telah ia singgahi
tanpa permisi

namun
rintik hujan malam ini
munculkan lagi
semua kenangan masa kecilku
dan akhirnya menjadi luka

karena
sejauh apapun mata memandang
tak pernah kutemui lagi
sawah yang hijau
sungai yang bersih
dan anak-anak kecil
yang masih bersedia
bermain dengan mereka

dan hujan
yang menjadi satu-satunya saksi
sekejap berhenti
ketika ku tanya mengapa





                                                                                                                    Yogyakarta, 8 November 2011
                                                                                                                    teringat masa kecilku

Surga di Telapak Kaki Ibu



aku ingin terlahir sebagai seorang wanita
punya suami cukup satu saja
kaya miskin jelek tampan sama saja
asal bisa buatku bahagia
kalau tak bahagia?
ceraikan saja
cari yang baru
tinggal tunjuk mana yang aku mau

aku ingin lekas menjadi ibu
punya anak harus yang banyak
laki-laki atau wanita sama saja
yang penting bisa buatku bahagia
kalau pada nakal
kutuk saja
jadikan mereka emas atau berlian
lalu jual
dan aku akan jadi orang terkaya di dunia

ada yang keberatan dengan tingkahku
ada yang berani menantangku
dewa
malaikat
atau Tuhan
ayo angkat tanganmu
silahkan maju satu persatu
mau keroyokan juga tak apa
bawa semua senjata kalian
aku tunggu di kebun belakang

dan hanya dengan menghentakkan kakiku saja
maka akan hancur sudah rumah kalian
hei Tuhan
kenapa Kau menangis?
Kau menyesal?
salah siapa Kau taruh surga di telapak kaki Ibu





                                                                                                                     Yogyakarta, 13 Oktober 2011

Sabtu, 05 November 2011

Dongeng untuk Anakmu

Tuhan mulai menjalankan tugasnya
Mengusir matahari dari jangkauan mata kita
Senja mulai turunkan tirainya
Begitu juga kau,
mulai menutup jendela hatimu

Kuurungkan niat awalku tuk bacakan sajakku di hadapmu
Karna aku tahu kau sudah lelah,
karna aku tahu kau mulai payah
Hadang rasa cintaku yang begitu resah,
hadang rasa cintaku yang mulai gelisah
Yang takut akan keadaan,
yang mulai menjauhkanmu dari kenyataan

Lewat kolong pintu rumahmu kuselipkan sajak-sajakku
Kelak bila saatnya tiba,
bacakanlah di hadapan anakmu
Layaknya dongeng sebelum tidurnya,
layaknya lagu nina boboknya

Bacakan..
Lantunkan..

Dan lewat merdu hembus nafasmu,
jangan lupa ceritakan pula sedikit tentangku
Katakanlah:
Wahai anakku,
wahai  embun dalam kemarau panjangku
Nak,
ia bukan ayahmu,
ia juga bukan kekasihku
Bukan juga malaikat pelindungku
Wahai anakku,
wahai perapian ditengah badai saljuku
Ia adalah orang yang sangat mencintaiku,
lebih dari cinta ayahmu kepadaku
Ia adalah orang yang paling tulus menyayangiku,
lebih dari kekasih-kekasihku yang dulu
Dan ia adalah orang yang slalu menjagaku,
tak seperti para malaikat pelindungku yang sering lupa mengawasiku

Dan dengan penasarannya anakmu kan bertanya:
Wahai ibuku,
wahai wanita bermata jingga
Bolehkah aku tahu siapakah orang itu?
Wahai ibuku,
wahai cahaya dalam tiap kedip mataku
Jawablah pertanyaanku,
agar lelap tidurku malam ini

Dari kejauhan,
dalam kesepian,
lewat kerinduan
Aku berbisik:
itu aku!
sang pengais embun disiang hari





Yogyakarta, 28 September 2011