Minggu, 27 Mei 2012

”Puhhh..."


"Puhhh..."
Kepulan asap rokok mulai memenuhi kamarku. Ini adalah rokok yang keempat, sedangkan aku belum juga menulis apa-apa. Padahal hari ini aku sudah bertekad untuk menulis sebuah cerita. Bagaimana jika pagi hari, setelah bagun tidurnya, seseorang mendapati kemaluan yang tersimpan rapi dalam celana dalamnya hilang? Tentu saja itu akan menjadi cerita yang menarik, fikirku. Ide ini sebenarnya sudah lama ingin sekali kutuliskan. Namun, selalu saja ada yang membuatku malas untuk menuliskannya.

Malas bukan berarti tak ingin. Tak ingin tentu saja bukan berarti malas. Setidaknya sudah ada keinginan di hatiku. Ya, setidaknya sudah ada keinginan. Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan ya aku ingin menjadi seorang penulis? Hahaha, aku tersenyum sendiri. Jika kuputar kembali rekaman-rekaman ingantanku jauh ke masa kecilku, seingatku dulu aku tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis.

Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ketika untuk pertama kalinya ibu guru bertanya padaku tentang apa cita-citaku, belum sempat keinginan untuk menjadi seorang penulis melintas sedikitpun di fikiranku. Jawabanku saat itu sangat standar. "Aku ingin menjadi seorang pilot!" Hahaha, aku tertawa jika teringat kejadian itu. Jangankan menjadi seorang pilot, sampai sekarangpun aku belum pernah naik pesawat.

Tapi setidaknya aku pernah naik pesawat, walaupun hanya wahana pesawat-pesawatan yang ada di pasar malam. Ah, pasar malam. Aku jadi teringat ketika pertama kali bapak mengajakku pergi ke pasar malam. Malam hari. Alun-alun kota. Ditengah banjir lautan manusia, tangan kiri bapak tak pernah lepas menggandeng tangan kananku. Tangan kiriku tak pernah lepas menggenggam gulali merah yang enak sekali rasanya.

Hem, gulali merah. Jika bapak mengajakku pergi ke pasar malam, aku selalu minta dibelikan gulali merah. Aku hanya mau gulali yang berwarna merah. Tidak mau yang hijau. Tidak mau yang putih. Tidak mau yang ungu. Juga tidak mau yang kuning. Aku hanya mau gulali yang berwarna merah karena aku suka warna merah. Aku suka warna merah karena jika setiap aku melihat film Power Ranger, selalu saja Power Ranger merahlah yang terlihat lebih keren diantara Power Ranger yang lainnya. Dan aku akan menangis sekencang-kencangnya jika ternyata gulali yang berwarna merah sudah habis terjual. Kalau aku sudah menangis seperti itu bapak punya jurus andalan untuk meredam tangisku. Sambil tersenyum tersenyum menggoda ia akan berkata, "Mau jadi Power Ranger kok nangis."

"Puhhh..."

Aku makin terjebak dalam kepulan-kepulan asap rokok yang semakin memenuhi kamarku. Aku juga masih terjebak dalam kenangan pasar malam masa kecilku. Sungguh suasana yang khas. Dalam kerlap-kerlip lampu warna-warni yang dipancarkan berbagai macam wahana, para pedagang pakaian hanyut dalam kesibukannya masing-masing. Para pedagang pakaian sibuk menata baju-baju, celana-celana, juga celana dalam-celana dalam yang mereka tawarkan dengan berbagai macam variasi potongan harga. Aku dan bapak berhenti di depan tumpukan celana dalam-celana dalam yang ditumpuk asal-asalan. Aku mau menagih janjiku. Kemarin bapak bilang mau membelikanku celana dalam bergambar Pokemon, kartun kesukaanku, sebagai hadiah ulang tahunku.

"Puhhh..."

Aku tersenyum teringat kejadian itu. Aku tersenyum teringat kenangan-kenanganku bersama celana dalam kesayanganku itu. Ah, celana dalam kesayanganku, dimanakah dirimu kini berada. Apa kau ingat betapa dulu aku sangat menyayangimu. Aku begitu membanggakanmu. Sampai-sampai ibu sering jengkel padaku hanya karena dulu aku sering pergi bermain tanpa menggunakan celana. Hanya celana dalam. Hanya kamu. Celana dalam bergambar Pokemon kesayanganku. Aku ingin teman-temanku tahu. Aku ingin mereka mengenalmu. Sebagai celana dalam kesayanganku.

Hei celana dalamku, pasti kau ingat sebuah kejadian yang membuat teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Saat itu, aku sedang asyik-asyiknya berlenggak-lenggok memamerkanmu di depan teman-temanku. Aku bagaikan seorang model profesional yang berjalan di atas panggung memamerkan sebuah maha karya desainer terkenal. Tiba-tiba dari arah belakangku ibu berlari dan berteriak-teriak sambil membawa celana. "Hei anak nakal! Pakai celanamu!" Melihat ada sesuatu yang mengancam kemesraan kita, aku berlari sekencang-kencangnya.

"Hei anak nakal! Kalau kau tak kemari, akan aku bakar celana dalammu itu!" Aku berhenti berlari. Aku menyerah. Aku kalah dengan ancaman ibu. Ibu menjewerku. Aku dipaksanya untuk mengenakan celana yang tadi ia bawa. Teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Aku malu. Aku sangat malu. Tapi setidaknya ibu tidak jadi membakarmu.

"Puhhh.."

Celana dalam. Aku membayangkan jika seandainya aku terlahir sebagai celana dalam. Bukankah menjadi sepotong celana dalam membutuhkan sebuah pengorbanan yang begitu besar? Tugas kita adalah memeluk dan menjaga barang agung milik manusia yang bernama kemaluan. Melindunginya bila siang terlalu banyak menyirami bumi dengan panas sinarnya. Menghangatkannya bila malam terlalu kencang menghembuskan dingin nafasnya. Dan memeluknya erat bila langit terlalu bersemangat memuntahkan hujan.

Begitu besar pengorbanan dan pengabdian celana dalam kepada kemaluan. Hingga akhirnya tumbuh merekah bunga-bunga cinta diantara mereka berdua. Mungkin karena mereka terbiasa bersama. Memang cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Kisah cinta mereka menjadi kisah cinta paling romantis mengalahkan kisah cinta Romeo and Juliet, roman klasik karya William Shakespeare, yang banyak orang bilang merupakan kisah cinta paling romantis di sepanjang masa.

Kisah cinta celana dalam dan kemaluan yang begitu tulus dan romantis akhirnya menjadi inspirasi bagi penulis muda Paulo Kazao untuk menulis novel pertamanya yang berjudul Underwear Love Story yang berhasil menjadi international bestseller dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selain telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, Underwear Love Story juga telah menjadi bacaan wajib di berbagai negara.

Kritikus-kritikus sastra sibuk meneliti dan mengkajinya dengan berbagai teori sastra. Dosen-dosen sastra dan guru-guru bahasa Indonesia sibuk mengagung-agungkannya di depan siswa-siswanya yang hanya bisa melongo dan ngangguk-ngangguk saja. Mahasiswa-mahasiswa sastra semester akhir berlomba-lomba mengkaji dan meneliti dengan teori seadanya dan asal-asalan untuk skripsi, syarat akhir kelulusan mereka.

”Puhhh..."

Underwear Love Story menjadi fenomena. Underwear Love Story menginspirasi pasangan-pasangan di dunia. Mereka berjanji kepada pasangan mereka masing-masing untuk selalu cinta dan setia seperti pengabdian celana dalam kepada kemaluan. Celana dalam menjadi sangat populer seiring terbitnya Underwear Love Story. Celana dalam menjadi hadiah paling romantis yang ditunggu seseorang dari pasangannya. Celana dalam menjadi hadiah paling favorit yang ditunggu-tunggu seluruh umat manusia di hari ulang tahun mereka.

Negara-negara di seluruh belahan dunia berlomba-lomba memproduksi celana dalam dengan berbagai variasi model dan desainnya. Produktivitas produksi celana dalam menjadi tolak ukur majunya sebuah negara. Celana dalam menjadi lambang kesuksesan. Celana dalam menjadi lambang cinta dan kesetiaan. Klub-klub sepakbola menjadikan celana dalam sebagai logo kebanggaannya.

Semua partai politik yang tidak mau kalah dalam pemilu juga menjadikan celana dalam sebagai logo kebanggan partainya. Hingga dimana tiba saatnya hari pemilu, jalanan penuh dengan celana dalam yang dikibar-kibarkan. Orang-orang berkampaye dengan celana dalam. Orasi-orasi menjanjikan celana dalam. Dimana-mana celana dalam dibagikan. Dimana-mana celana dalam menjadi sogokan. Partai yang membagikan celana dalam yang paling banyaklah yang akhirnya menjadi pemenangnya.

"Puhhh..."

Underwear Love Story semakin menjadi fenomena ketika sutradara terwahid di dunia, John Well, mengadaptasi Underwear Love Story menjadi film terbarunya, Underwear Love Story the Movie. Film ini tidak kalah sukses dari novelnya, Underwear Love Story the Movie berhasil meraih berbagai penghargaan. Karena bukunya yang laris dan berhasil menginspirasi banyak orang, Paulo Kazao berhasil memperoleh Hadiah Nobel Kesusastraan. Paulo Kazao menjadi satu-satunya peraih nobel yang berhasil memperoleh nobel hanya dari buku pertama yang ditulisnya.

"Puhhh..."

Kepulan asap rokok makin kurang ajar mengeroyokku. Dadaku sesak. Aku batuk-batuk. Aku terpaksa membuka pintu kamarku. Angin malam yang berhembus lirih mulai mengusir kepulan-kepulan asap rokok ini. Kulihat layar komputer yang masih setia menyala di depanku. Kosong. Ternyata dari tadi aku belum menulis apa-apa. Aku terlalu asyik melamun. Padahal malam ini aku sudah berniat untuk menulis sebuah cerita. Kulirik bungkus rokok yang tergeletak. Kosong. Ternyata ini rokok terakhirku.

"Puhhh..."

Aku kembali teringat Paulo Kazao...

Tongkat Sihir


 Hari ini tidak seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah dibuat repot oleh kemaluanku yang hilang entah kemana. Apa aku lupa menaruhnya? Aku rogoh saku kanan celanaku, tak kutemukan kemaluanku. Aku rogoh saku kiri celanaku, tak kutemukan juga kemaluanku. Aku rogoh saku belakang celanaku, hanya ada dompetku. Awalnya ada niatan untuk memeriksa isi dompetku, tapi kelihatannya hanya akan menjadi sia-sia. Jangankan kemaluanku, uang sepersen pun tidak pernah betah tinggal di dalam dompetku.

Aku masih terus mencari kemaluanku. Aku cari di bawah bantal, aku cari di kolong tempat tidurku, bahkan sudah aku buka dan aku keluarkan seluruh isi lemari pakaianku, tapi tetap saja tak kutemukan kemaluanku. Oh, kemaluanku apa salah dan dosaku hingga akhirnya kau pergi meninggalkanku? Bagai matahari pagi yang terbit di balik setiap gunung yang digambarkan anak-anak kecil, kecemasan juga mulai terbit di fikiranku. Tanpa berfikir lama, segera kuambil ponselku.

"Hai bung, ada apa? Kok tumben pagi-pagi gini telpon? Pasti mau titip absen ya?
Hahaha....."

"Ah, sial kau ton malah ketawa! Aku lagi ada masalah ini ton. Serius!"

"Hei, santailah bung. Lagi ada masalah apa kau? Kok kayaknya gawat sekali ini."

"Kemaluanku hilang ton."

"Ha? Hahahahahaha....!"

"Ah, sial kau ton malah ketawa lagi! Serius ini ton. Gimana ini ton?"

"Hahahahahaha.... Kau sih pelupa. Coba kau ingat-ingat, dimana terakhir kali kau
 menaruhnya."

"Sudah ton, sudah. Aku sudah cari dimana-mana, tapi tetap tak kutemukan juga. Lalu
bagaimana ini ton?"

"Coba kau siarkan saja berita kehilangan kemaluanmu ini lewat speaker masjid dekat
rumahmu, seperti berita-berita lelayu. Nanti semua orang akan tahu dan yang
menemukannya bisa langsung mengembalikannya ke rumahmu. Siapa tahu
kemaluanmu terjatuh di jalan dan ditemukan orang. Hahahahahaha......"

Ku matikan ponselku. Memang brengsek si Toni itu. Bukannya membantu, tapi malah menambah beban di fikiranku. Kecemasan masih saja enak-enakan nongkrong di fikiranku. Aku putuskan untuk bertanya kepada ibu. Cepat-cepat aku menuju kamar ibuku. Saking cemasnya, ibu yang kulihat sedang tertidur pulas aku guncang-guncangkan tempat tidurnya, sampai-sampai ibu terjatuh. Kepala ibu bocor karena terbentur tembok.

Aku semakin cemas saat melihat darah meluncur deras dari kepala ibu. Tapi tanpa merasa bersalah aku bertanya kepada ibu, "Ibu, mengapa kau benturkan kepalamu ke tembok itu? Apa kau tak percaya bahwa tembok itu keras, sehingga kau ingin membuktikannya dengan membenturkan kepalamu ke tembok itu?"

Ibu hanya tersenyum.

Seperti itulah ibuku. Ibu selalu menjawab segala kecemasanku dengan senyumannya. Namun anehnya, cukup hanya dengan melihat senyum itu aku merasa segala kecemasanku hilang. Aneh bukan? Aku sering bertanya-tanya kenapa senyum ibu bisa seampuh itu kepadaku. Apa mungkin dulu ibu pernah tidak sengaja menelan tongkat sihir, sehingga senyumannya dapat menyihir semua orang yang melihatnya? Aku rasa ini jawaban yang benar, karena dulu ayahku juga pernah bercerita bahwa ia jatuh cinta kepada ibuku juga karena senyumannya.

Kecemasan tentang kemaluanku yang hilang lagi-lagi nongkrong di fikiranku. Kali ini ia benar-benar memenuhi isi otakku. Kecemasan-kecemasan itu akhirnya tumpah membludak dan lama-kelamaan membanjiri kamar ibuku. Ibuku yang hampir kehabisan nafas karena tenggelam dalam kecemasanku itu, akhirnya tak hanya bisa lagi tersenyum seperti biasanya. Kecemasan mulai berubah menjadi penyakit yang berbahaya, dan ibukulah korban pertamanya. Ibu yang sedari tadi hanya berlindung di balik perisai senyumannya, kini mulai terdengar suara indahnya.

"Sebenarnya kau ada apa nak? tidak biasanya kamu secemas ini."

"Kemaluanku hilang bu!" Aku menangis memeluknya.

"Loh, kok bisa hilang? sudah kau cari di dalam celana dalammu?"

"Sudah bu. Sudah berulang kali dan belum juga ketemu."

"Di celana dalammu yang lainnya? mungkin saja ia tercecer bersama celana dalam
 kotormu yang kemarin dicuci."

"Tidak ada bu. Mbok yem sudah aku suruh mencarinya di semua celana dalamku, tapi
tetap tidak ketemu juga bu."

"Sudah kau tanyakan pada ayahmu? biasanya kan kemaluanmu sering main ke celana
dalam ayahmu untuk sekedar silaturahmi dan sungkem kepada kemaluannya
ayahmu. Coba tanyalah dulu sama ayahmu."

Tanpa menjawab ibu, aku segera menemui ayahku yang saat itu sedang asyik membaca koran sambil sesekali meneguk teh hangat di tangannya. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya.

"Ayah, kau tahu dimana kemaluanku?"

"Hahahahahaha....!"

Ayah malah tertawa terbahak-bahak. Teh hangat yang di pegangnya hampir tumpah karenanya. Aku jelas merasa heran sekaligus kesal karena ayah malah menanggapi kecemasanku ini dengan tawanya yang mengejekku. Sadar dengan anaknya yang mulai merasa kesal, sambil mencoba menahan tawanya ayahku segera menyodorkan kepadaku bungkusan tas plastik hitam yang tidak aku ketahui isinya.

Tanpa berfikir lama, segera saja aku buka tas plastik hitam yang tidak aku ketahui isinya itu. Aku terkejut karena ternyata isi tas plastik hitam itu adalah barang yang sedari tadi aku cari. Melihat raut wajahku yang tiba-tiba saja berubah, lagi-lagi ayah tertawa terbahak-bahak.

"Itu tadi titipan dari mbak Dewi, janda baru tetangga kita." Ayah sengaja menahan tawanya, ia menunggu jawaban dariku. Jelas, ia sedang mengejekku.

Tenggorokanku terasa tersumbat oleh rasa malu yang begitu dahsyat, seakan-akan menghalangi jalan keluar bagi jawaban-jawaban palsuku. Jawaban-jawaban palsu yang ingin kugunakan untuk membela diriku dari rasa malu ini. Meski berusaha berulang kali untuk menjawabnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku kalah. Tanpa komando kepalaku tertunduk, tanda menyerah. Kali ini aku benar-benar tidak dapat menjawabnya.

"Sudah, tidak perlu malu. Lagipula banyak sekali yang tertinggal disana, bukan hanya punyamu saja. Memang disana tempatnya enak dan nyaman, makanya banyak sekali kemaluan para lelaki yang tertinggal disana. Mungkin mereka betah tinggal disana, sehingga tidak mau diajak pulang. Hahahahaha....."

Lagi-lagi aku terkejut. Aku menatap mata ayah dalam-dalam. Sorot mataku jelas mengandung banyak pertanyaan. Ayah sadar aku mencurigainya. Tiba-tiba ia mengerem tawanya. Dengan tenang ia meletakkan teh hangat yang sedari tadi masih dipegangnya di atas meja di samping kanannya, berjejer dengan korannya. Lalu dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dengan wajahnya yang mulai memerah ayah berbisik.

"Kemarin punya ayah juga tertinggal disana."

Tanpa bersepakat terlebih dahulu, juga tanpa aba-aba aku dan ayah dengan kompak tertawa bersamaan. Suara tawa kami menggelegar bagai petir yang menyambar-nyambar apa saja yang ditemuinya. Tanpa kami ketahui, tawa kami ternyata juga menyambar perhatian ibu yang tiba-tiba saja langsung datang dan bertanya ada apa dengan kami.

Kami hanya tersenyum. Ibu hanya bisa diam. Mungkin sekarang ibu sedang berfikir bahwa aku dan ayah telah menelan tongkat sihir, sehingga senyum kami dapat menyihir siapa saja yang melihatnya. Ibu sangat yakin dengan jawabannya.