Selasa, 05 Juni 2012

Pada Sebuah Taman, Kuceritakan Sebuah Dongeng tentang Keabadian



Apakah surga adalah malam dengan jalanan panjang yang kita lewati berdua dengan hanya ditemani sinar temaram lampu-lampu kota. Yang berbaris rapi di tepiannya. Yang menunjukkan kepada kita arah menuju pulang. Arah menuju kebahagiaan. Arah menuju keabadian.

Dimana keabadiaan adalah ketika kita sedang duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa. Kita toh tak pernah peduli jika sebelumnya bangku itu diduduki oleh sepasang kekasih yang akhirnya bersepakat untuk berpisah yang entah tak tahu disebabkan oleh apa

Mungkin ada salah satu dari orang tua mereka yang tidak setuju. Mungkin si lelaki telah bosan. Mungkin si wanita telah memilih untuk pergi bersama lelaki lain. Mungkin..... Mungkin..... Dan..... mungkin saja. Bukankah dunia ini penuh dengan kemungkinan sayang? Dan kita sebagai manusia hanya bisa menerka-nerka. Hanya bisa menebak-nebak.

Tapi toh jika memang sebelumnya bangku itu memang pernah diduduki oleh sepasang kekasih yang berpisah karena orang tuanya, sepasang kekasih yang berpisah karena rasa bosan, atau sepasang kekasih yang bercinta karena sebuah perselingkuhan, kita tetap tidak akan peduli.

Kita akan tetap asyik duduk bersandar pada bangku itu. Kita akan tetap asyik menikmati suasana taman. Memanjakan mata kita dengan pemandangan bunga-bunga yang sedang merekah. Memanjakan telinga kita dengan suara kepak sayap kupu-kupu yang terkadang terdengar seperti sebuah alunan lagu.

Dan kita terus asyik menikmati ice cream strawberry yang tidak pernah meleleh meski terus diguyur sinar matahari. Kita tetap tidak akan peduli bahkan kepada nasib sebuah ice cream strawberry. Karena kita hidup dalam keabadian. Karena keabadian tidak usah perlu dipertanyakan.

Karena sudah berulang kali kubilang, bahwa  keabadian adalah ketika kita duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa.  Sambil menikmati suasana taman kita setia menunggu senja yang sesungguhnya tak pernah akan datang.

Dan kita tetap tidak akan peduli kepada senja yang sesungguhnya tidak akan pernah datang. Karena kita hidup dalam keabadian. Karena senja adalah sebuah perpisahan. Karena senja akan membawa kita pada kesunyian malam. Dimana aku harus rela mengantarmu pulang. Melewati sebuah  jalanan panjang.

Ditemani sinar temaram lampu-lampu kota yang berbaris rapi di tepian, di sepanjang jalan sebagai penunjuk arah  jalan pulang. Arah menuju kebahagiaan. Arah menuju keabadian. Dan kita tidak lagi perlu membicarakan keabadian. Karena keabadian adalah ketika kita duduk berdua di sebuah taman dan bla... bla... bla...

Dan akan terus berulang-ulang. Akan selalu membingungkan. Akan terlalu melelahkan untuk dipertanyakan. Dan kita setuju bahwa keabadian tidak usah perlu dipertanyakan. Dan memang sepantasnya tak usah kita pertanyakan. Karena kita masih dalam perjalanan. Karena kita masih dalam sebuah  jalanan yang panjang.

Aku masih harus mengantarmu pulang. Begitu juga kau yang  masih harus aku antar pulang. Di sepanjang perjalanan kita berkenalan dengan bulan. Di sepanjang perjalanan kita terus mendengarkan dongeng-dongeng sang rembulan. Dongeng-dongeng tentang keabadian. Dan kita tetap tidak peduli. Karena kita telah setuju bahwa keabadian tidak perlu dipertanyakan.

Kita terus dibanjiri bulan dengan dongeng-dongeng keabadian. Kita terus tidak peduli. Tapi kita terus berusaha untuk tetap menghargai. Bukankah kau pernah berkata bahwa manusia tidak akan punya arti lagi apabila ia tak lagi bisa saling menghargai. Aku masih mengingatnya. Aku masih akan selalu mengingatnya.

Sebuah kalimat yang kau ucapkan ketika kita sedang duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa. Dan ketika itu kita tidak peduli. Dan sampai sekarang kita terus berusaha untuk tidak peduli. Lagipula masih panjang jalan yang mesti kita lalui.

Kau bilang ini masih seperempat perjalanan. Kau bilang masih panjang jalan kita menuju pulang. Aku tidak peduli. Takkan pernah peduli. Aku tidak keberatan. Takkan pernah keberatan jika harus berlama-lama melewati malam bersamamu. Bukankah juga masih banyak dongeng-dongeng tentang keabadian  yang mesti kita dengarkan dari sang bulan?

Aku harap kau tidak bosan. Aku harap kau tak akan pernah bosan. Lalu kau bilang bahwa kau tidak  bosan. Kau juga bilang bahwa kau tak akan pernah bosan jika harus berlama-lama melewati malam bersamaku. Lalu kau berlari sambil tertawa mengejek. Aku mengejarmu dengan muka masam.  Kurang ajar! Kau memang suka meniru kata-kataku.

Aku terus berlari mengejarmu. Aku terus berlari mengejar bayanganmu. Bayangan yang hadir karena belaian sinar temaram lampu-lampu kota. Bayangan karena guyuran hangat sinar rembulan. Awas kau! Jika kudapati kau akan kucubit gemas pinggangmu. Kelelawar-kelelawar tertawa melihat tingkah kita. Tapi kita tidak peduli. Tidak akan pernah peduli.

Sampai pada sebuah taman kota. Bulan begitu dekat dengan kita. Aku berbisik kepadanya. Aku minta ia bacakan sajak Kangen dari W.S Rendra. Sajak untuk kita berdua. Sajak untuk aku dan kamu. Sajak untuk menggambarkan rasa rinduku padamu. Sajak untuk ka
mu dan aku.  Sajak untuk menggambarkan rasa rindumu padaku.

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.Kau tak akan mengerti segala lukakukerna luka telah sembunyikan pisaunya.Membayangkan wajahmu adalah siksa.Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.Engkau telah menjadi racun bagi darahku.Apabila aku dalam kangen dan sepiitulah berarti aku tungku tanpa api.”

Kau tersenyum ketika mendengar bulan membacakan sajak itu. Kau teringat sesuatu. Aku memang sengaja mengingatkanmu pada sesuatu. Dimana saat itu kita terdampar pada sebuah taman yang entah dimana. Namun kita tidak sedang duduk berdua dan bersandar pada sebuah bangku yang sebelumnya entah diduduki oleh siapa.

Saat itu kita memang tidak sedang terjebak dalam taman keabadian. Hanya taman biasa. Tanpa bangku yang tidak usah kita pusing memikirkan sebelumnya diduduki oleh siapa. Karena hanya ada rumputan. Juga beberapa pohon yang berdiri tegak sejauh mata kita memandang. Disana kita tidak sendiri. Ada teman-temanku. Ada teman-temanmu.

Seperti biasa. Sore itu
kita melakukan ibadah membaca sajak bersama. Kita duduk melingkar. Kita mendengarkan teman-teman kita membaca sajak. Kita menunggu giliran kita membaca sajak. Tiba giliranku. Aku memilih sajak itu. Sajak itu kubacakan untukmu. Namun sajak itu tidak kukatan jika kubacakan untukmu. Aku malu. Lagipula itu juga tidak perlu.

Karena aku tahu jika sebenarnya kau tahu maksudku. Karena aku tahu jika kau sudah tahu bahwa aku sedang rindu kepadamu. Itu terlihat dari matamu. Yang sengaja kau hindarkan agar tidak bertemu dengan mataku. Aku tahu kamu juga malu. Namun aku tak tahu apa kamu juga sedang rindu kepadaku.
Karena aku tak dapat membaca matamu.

Matamu adalah samudra. Dan aku
masih terlalu takut untuk menyelaminya. Kau selalu dapat menyembunyikan kesedihanmu. Aku tahu kau adalah orang yang selalu tak ingin merepotkan orang lain. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh karena tak dapat menangkap kesedihan di matamu. Ah, entahlah.

Tapi kau harus sadar bahwa manusia memanglah makhluk yang merepotkan. Manusia diciptakan untuk merepotkan manusia lainnya. Aku tidak dapat membayangkan betapa repotnya Tuhan mengurusi manusia. Manusia banyak maunya. Manusia banyak doanya. Tapi jarang sekali yang mau berusaha.

Ah, sudahlah. Lagipula itu bukan urusan kita. Urusanku adalah mengantarmu pulang. Urusanmu adalah aku antar pulang. Sampai pada sebuah taman kota yang entah sama atau tidak dengan taman-taman kota yang sebelumnnya. Terdengar suara yang begitu indah entah dari mana. Yang jelas kita tidak peduli. Takkan pernah peduli.

"Ma l'amore no,
l'amore mio non può
disperdersi nel vento con le rose
tanto è forte che non cederà,
non sfiorirè."

Ternyata suara indah Lina Termini menyanyikan lagu Ma L' amore No. Seperti disihir oleh sesuatu, tanpa dikomandoi tangan kiriku menggenggam tangan kananmu. Tangan kananmu menggenggam tangan kiriku. Tangan kananku meraih pinggangmu. Tangan kirimu meraih pinggangku.

"Io lo veglierò,
io lo difenderò
da tutte quelle insidie velenose
che vorrebbero strapparlo al cuor,
povero amor."

Kita mulai menari. Mencoba menyelaraskan langkah kaki. Aku melangkah ke kiri. Kau ikuti dengan melangkah ke kanan. Aku melangkah ke kanan. Kau ikuti dengan melangkah ke kiri. Kita ayun-ayunkan tangan kita perlahan. Kita seperti hanyut dalam ombak. Terus melangkah ke kiri dan ke kanan. Sesekali maju dan mundur ke belakang.

"Forse te ne andrai
da altre donne le carezze cercherai
ahimè!
e se tornerai
già sfiorita ogni bellezza troverai
in me."

Kita terus menari. Terus mencoba menyelaraskan langkah kaki. Kita bahkan lupa bahwa sebenarnya kita tidak suka menari. Aku pernah bilang kepadamu bahwa aku tidak suka menari. Kau juga pernah bilang kepadaku bahwa kau juga tidak suka menari. Tapi kita tidak peduli. Kita takkan pernah peduli. Kita terus saja menari.

"Ma l'amore no,
l'amore mio non può
dissolversi con l'oro dei capelli
finch'io vivo sarà vivo in me,
solo per te."

Kita masih terus menari. Kita masih terus mencoba menyelaraskan langkah kaki. Di bawah guyuran sinar rembulan mata kita bertemu. Di bening matamu aku melihat keabadian. Aku melihat kita sedang duduk berdua di
sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa.

"Forse te ne andrai
da altre donne le carezze cercherai
ahimè!
e se tornerai
già sfiorita ogni bellezza troverai
in me."

Aku terus beranikan diri menatap matamu. Kali ini aku melihat surga. Aku melihat
malam dengan jalanan panjang yang kita lewati berdua dengan hanya ditemani sinar temaram lampu-lampu kota. Yang berbaris rapi di tepiannya. Yang menunjukkan kepada kita arah menuju pulang. Dan kita masih dalam perjalanan pulang.

"Ma l'amore no,
l'amore mio non può
dissolversi con l'oro dei capelli
finch'io vivo sarà vivo in me,
solo per te."

Bulan semakin terlihat megah dengan kerlap-kerlip cahaya bintang-bintang yang menghiasi sekitarnya. Malam semakin malam. Dingin semakin dingin. Semakin erat kugenggam tanganmu. Semakin erat kupeluk tubuhmu. Semakin jelas terlihat indah wajahmu. Semakin jelas tercium harum bau tubuhmu.

Ingin kubelai lembut kedua pipimu yang semakin terlihat menggemaskan ketika diguyur sinar rembulan. Kucium harum aroma rambutmu untuk mengusir dinginnya malam. Dan kukecup hangat bibirmu hingga aku puas. Hingga kita berdua lemas. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kita duduk di sebuah bangku taman.

"Sayang, sekarang aku tagih janjimu. Ceritankanlah kepadaku dongeng tentang keabadian."

"Baiklah, sayang. Akan kupenuhi janjiku. Akan kuceritakan sebuah dongeng tentang keabadian. Tapi sebelum itu marilah kita bersepakat terlebih dahulu. Apakah kau juga setuju bahwa keabadian bukan untuk dipertanyakan? Jika kau setuju, maka akan aku mulai ceritaku."

Dan aku mulai bercerita tentang keabadian.
Dimana keabadiaan adalah ketika kita sedang duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa. Dan aku terus bercerita. Terus bercerita. Dan kau terus mendengarkan. Terus mendengarkan. Tanpa sekalipun mempertanyakan.





                                                                                                             Yogyakarta, 25 Mei 2012