Selasa, 05 Juni 2012

Pada Sebuah Taman, Kuceritakan Sebuah Dongeng tentang Keabadian



Apakah surga adalah malam dengan jalanan panjang yang kita lewati berdua dengan hanya ditemani sinar temaram lampu-lampu kota. Yang berbaris rapi di tepiannya. Yang menunjukkan kepada kita arah menuju pulang. Arah menuju kebahagiaan. Arah menuju keabadian.

Dimana keabadiaan adalah ketika kita sedang duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa. Kita toh tak pernah peduli jika sebelumnya bangku itu diduduki oleh sepasang kekasih yang akhirnya bersepakat untuk berpisah yang entah tak tahu disebabkan oleh apa

Mungkin ada salah satu dari orang tua mereka yang tidak setuju. Mungkin si lelaki telah bosan. Mungkin si wanita telah memilih untuk pergi bersama lelaki lain. Mungkin..... Mungkin..... Dan..... mungkin saja. Bukankah dunia ini penuh dengan kemungkinan sayang? Dan kita sebagai manusia hanya bisa menerka-nerka. Hanya bisa menebak-nebak.

Tapi toh jika memang sebelumnya bangku itu memang pernah diduduki oleh sepasang kekasih yang berpisah karena orang tuanya, sepasang kekasih yang berpisah karena rasa bosan, atau sepasang kekasih yang bercinta karena sebuah perselingkuhan, kita tetap tidak akan peduli.

Kita akan tetap asyik duduk bersandar pada bangku itu. Kita akan tetap asyik menikmati suasana taman. Memanjakan mata kita dengan pemandangan bunga-bunga yang sedang merekah. Memanjakan telinga kita dengan suara kepak sayap kupu-kupu yang terkadang terdengar seperti sebuah alunan lagu.

Dan kita terus asyik menikmati ice cream strawberry yang tidak pernah meleleh meski terus diguyur sinar matahari. Kita tetap tidak akan peduli bahkan kepada nasib sebuah ice cream strawberry. Karena kita hidup dalam keabadian. Karena keabadian tidak usah perlu dipertanyakan.

Karena sudah berulang kali kubilang, bahwa  keabadian adalah ketika kita duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa.  Sambil menikmati suasana taman kita setia menunggu senja yang sesungguhnya tak pernah akan datang.

Dan kita tetap tidak akan peduli kepada senja yang sesungguhnya tidak akan pernah datang. Karena kita hidup dalam keabadian. Karena senja adalah sebuah perpisahan. Karena senja akan membawa kita pada kesunyian malam. Dimana aku harus rela mengantarmu pulang. Melewati sebuah  jalanan panjang.

Ditemani sinar temaram lampu-lampu kota yang berbaris rapi di tepian, di sepanjang jalan sebagai penunjuk arah  jalan pulang. Arah menuju kebahagiaan. Arah menuju keabadian. Dan kita tidak lagi perlu membicarakan keabadian. Karena keabadian adalah ketika kita duduk berdua di sebuah taman dan bla... bla... bla...

Dan akan terus berulang-ulang. Akan selalu membingungkan. Akan terlalu melelahkan untuk dipertanyakan. Dan kita setuju bahwa keabadian tidak usah perlu dipertanyakan. Dan memang sepantasnya tak usah kita pertanyakan. Karena kita masih dalam perjalanan. Karena kita masih dalam sebuah  jalanan yang panjang.

Aku masih harus mengantarmu pulang. Begitu juga kau yang  masih harus aku antar pulang. Di sepanjang perjalanan kita berkenalan dengan bulan. Di sepanjang perjalanan kita terus mendengarkan dongeng-dongeng sang rembulan. Dongeng-dongeng tentang keabadian. Dan kita tetap tidak peduli. Karena kita telah setuju bahwa keabadian tidak perlu dipertanyakan.

Kita terus dibanjiri bulan dengan dongeng-dongeng keabadian. Kita terus tidak peduli. Tapi kita terus berusaha untuk tetap menghargai. Bukankah kau pernah berkata bahwa manusia tidak akan punya arti lagi apabila ia tak lagi bisa saling menghargai. Aku masih mengingatnya. Aku masih akan selalu mengingatnya.

Sebuah kalimat yang kau ucapkan ketika kita sedang duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa. Dan ketika itu kita tidak peduli. Dan sampai sekarang kita terus berusaha untuk tidak peduli. Lagipula masih panjang jalan yang mesti kita lalui.

Kau bilang ini masih seperempat perjalanan. Kau bilang masih panjang jalan kita menuju pulang. Aku tidak peduli. Takkan pernah peduli. Aku tidak keberatan. Takkan pernah keberatan jika harus berlama-lama melewati malam bersamamu. Bukankah juga masih banyak dongeng-dongeng tentang keabadian  yang mesti kita dengarkan dari sang bulan?

Aku harap kau tidak bosan. Aku harap kau tak akan pernah bosan. Lalu kau bilang bahwa kau tidak  bosan. Kau juga bilang bahwa kau tak akan pernah bosan jika harus berlama-lama melewati malam bersamaku. Lalu kau berlari sambil tertawa mengejek. Aku mengejarmu dengan muka masam.  Kurang ajar! Kau memang suka meniru kata-kataku.

Aku terus berlari mengejarmu. Aku terus berlari mengejar bayanganmu. Bayangan yang hadir karena belaian sinar temaram lampu-lampu kota. Bayangan karena guyuran hangat sinar rembulan. Awas kau! Jika kudapati kau akan kucubit gemas pinggangmu. Kelelawar-kelelawar tertawa melihat tingkah kita. Tapi kita tidak peduli. Tidak akan pernah peduli.

Sampai pada sebuah taman kota. Bulan begitu dekat dengan kita. Aku berbisik kepadanya. Aku minta ia bacakan sajak Kangen dari W.S Rendra. Sajak untuk kita berdua. Sajak untuk aku dan kamu. Sajak untuk menggambarkan rasa rinduku padamu. Sajak untuk ka
mu dan aku.  Sajak untuk menggambarkan rasa rindumu padaku.

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.Kau tak akan mengerti segala lukakukerna luka telah sembunyikan pisaunya.Membayangkan wajahmu adalah siksa.Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.Engkau telah menjadi racun bagi darahku.Apabila aku dalam kangen dan sepiitulah berarti aku tungku tanpa api.”

Kau tersenyum ketika mendengar bulan membacakan sajak itu. Kau teringat sesuatu. Aku memang sengaja mengingatkanmu pada sesuatu. Dimana saat itu kita terdampar pada sebuah taman yang entah dimana. Namun kita tidak sedang duduk berdua dan bersandar pada sebuah bangku yang sebelumnya entah diduduki oleh siapa.

Saat itu kita memang tidak sedang terjebak dalam taman keabadian. Hanya taman biasa. Tanpa bangku yang tidak usah kita pusing memikirkan sebelumnya diduduki oleh siapa. Karena hanya ada rumputan. Juga beberapa pohon yang berdiri tegak sejauh mata kita memandang. Disana kita tidak sendiri. Ada teman-temanku. Ada teman-temanmu.

Seperti biasa. Sore itu
kita melakukan ibadah membaca sajak bersama. Kita duduk melingkar. Kita mendengarkan teman-teman kita membaca sajak. Kita menunggu giliran kita membaca sajak. Tiba giliranku. Aku memilih sajak itu. Sajak itu kubacakan untukmu. Namun sajak itu tidak kukatan jika kubacakan untukmu. Aku malu. Lagipula itu juga tidak perlu.

Karena aku tahu jika sebenarnya kau tahu maksudku. Karena aku tahu jika kau sudah tahu bahwa aku sedang rindu kepadamu. Itu terlihat dari matamu. Yang sengaja kau hindarkan agar tidak bertemu dengan mataku. Aku tahu kamu juga malu. Namun aku tak tahu apa kamu juga sedang rindu kepadaku.
Karena aku tak dapat membaca matamu.

Matamu adalah samudra. Dan aku
masih terlalu takut untuk menyelaminya. Kau selalu dapat menyembunyikan kesedihanmu. Aku tahu kau adalah orang yang selalu tak ingin merepotkan orang lain. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh karena tak dapat menangkap kesedihan di matamu. Ah, entahlah.

Tapi kau harus sadar bahwa manusia memanglah makhluk yang merepotkan. Manusia diciptakan untuk merepotkan manusia lainnya. Aku tidak dapat membayangkan betapa repotnya Tuhan mengurusi manusia. Manusia banyak maunya. Manusia banyak doanya. Tapi jarang sekali yang mau berusaha.

Ah, sudahlah. Lagipula itu bukan urusan kita. Urusanku adalah mengantarmu pulang. Urusanmu adalah aku antar pulang. Sampai pada sebuah taman kota yang entah sama atau tidak dengan taman-taman kota yang sebelumnnya. Terdengar suara yang begitu indah entah dari mana. Yang jelas kita tidak peduli. Takkan pernah peduli.

"Ma l'amore no,
l'amore mio non può
disperdersi nel vento con le rose
tanto è forte che non cederà,
non sfiorirè."

Ternyata suara indah Lina Termini menyanyikan lagu Ma L' amore No. Seperti disihir oleh sesuatu, tanpa dikomandoi tangan kiriku menggenggam tangan kananmu. Tangan kananmu menggenggam tangan kiriku. Tangan kananku meraih pinggangmu. Tangan kirimu meraih pinggangku.

"Io lo veglierò,
io lo difenderò
da tutte quelle insidie velenose
che vorrebbero strapparlo al cuor,
povero amor."

Kita mulai menari. Mencoba menyelaraskan langkah kaki. Aku melangkah ke kiri. Kau ikuti dengan melangkah ke kanan. Aku melangkah ke kanan. Kau ikuti dengan melangkah ke kiri. Kita ayun-ayunkan tangan kita perlahan. Kita seperti hanyut dalam ombak. Terus melangkah ke kiri dan ke kanan. Sesekali maju dan mundur ke belakang.

"Forse te ne andrai
da altre donne le carezze cercherai
ahimè!
e se tornerai
già sfiorita ogni bellezza troverai
in me."

Kita terus menari. Terus mencoba menyelaraskan langkah kaki. Kita bahkan lupa bahwa sebenarnya kita tidak suka menari. Aku pernah bilang kepadamu bahwa aku tidak suka menari. Kau juga pernah bilang kepadaku bahwa kau juga tidak suka menari. Tapi kita tidak peduli. Kita takkan pernah peduli. Kita terus saja menari.

"Ma l'amore no,
l'amore mio non può
dissolversi con l'oro dei capelli
finch'io vivo sarà vivo in me,
solo per te."

Kita masih terus menari. Kita masih terus mencoba menyelaraskan langkah kaki. Di bawah guyuran sinar rembulan mata kita bertemu. Di bening matamu aku melihat keabadian. Aku melihat kita sedang duduk berdua di
sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa.

"Forse te ne andrai
da altre donne le carezze cercherai
ahimè!
e se tornerai
già sfiorita ogni bellezza troverai
in me."

Aku terus beranikan diri menatap matamu. Kali ini aku melihat surga. Aku melihat
malam dengan jalanan panjang yang kita lewati berdua dengan hanya ditemani sinar temaram lampu-lampu kota. Yang berbaris rapi di tepiannya. Yang menunjukkan kepada kita arah menuju pulang. Dan kita masih dalam perjalanan pulang.

"Ma l'amore no,
l'amore mio non può
dissolversi con l'oro dei capelli
finch'io vivo sarà vivo in me,
solo per te."

Bulan semakin terlihat megah dengan kerlap-kerlip cahaya bintang-bintang yang menghiasi sekitarnya. Malam semakin malam. Dingin semakin dingin. Semakin erat kugenggam tanganmu. Semakin erat kupeluk tubuhmu. Semakin jelas terlihat indah wajahmu. Semakin jelas tercium harum bau tubuhmu.

Ingin kubelai lembut kedua pipimu yang semakin terlihat menggemaskan ketika diguyur sinar rembulan. Kucium harum aroma rambutmu untuk mengusir dinginnya malam. Dan kukecup hangat bibirmu hingga aku puas. Hingga kita berdua lemas. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kita duduk di sebuah bangku taman.

"Sayang, sekarang aku tagih janjimu. Ceritankanlah kepadaku dongeng tentang keabadian."

"Baiklah, sayang. Akan kupenuhi janjiku. Akan kuceritakan sebuah dongeng tentang keabadian. Tapi sebelum itu marilah kita bersepakat terlebih dahulu. Apakah kau juga setuju bahwa keabadian bukan untuk dipertanyakan? Jika kau setuju, maka akan aku mulai ceritaku."

Dan aku mulai bercerita tentang keabadian.
Dimana keabadiaan adalah ketika kita sedang duduk berdua di sebuah taman yang entah dimana. Bersandar pada sebuah bangku taman yang entah sebelumnya diduduki oleh siapa. Dan aku terus bercerita. Terus bercerita. Dan kau terus mendengarkan. Terus mendengarkan. Tanpa sekalipun mempertanyakan.





                                                                                                             Yogyakarta, 25 Mei 2012

Minggu, 27 Mei 2012

”Puhhh..."


"Puhhh..."
Kepulan asap rokok mulai memenuhi kamarku. Ini adalah rokok yang keempat, sedangkan aku belum juga menulis apa-apa. Padahal hari ini aku sudah bertekad untuk menulis sebuah cerita. Bagaimana jika pagi hari, setelah bagun tidurnya, seseorang mendapati kemaluan yang tersimpan rapi dalam celana dalamnya hilang? Tentu saja itu akan menjadi cerita yang menarik, fikirku. Ide ini sebenarnya sudah lama ingin sekali kutuliskan. Namun, selalu saja ada yang membuatku malas untuk menuliskannya.

Malas bukan berarti tak ingin. Tak ingin tentu saja bukan berarti malas. Setidaknya sudah ada keinginan di hatiku. Ya, setidaknya sudah ada keinginan. Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan ya aku ingin menjadi seorang penulis? Hahaha, aku tersenyum sendiri. Jika kuputar kembali rekaman-rekaman ingantanku jauh ke masa kecilku, seingatku dulu aku tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis.

Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ketika untuk pertama kalinya ibu guru bertanya padaku tentang apa cita-citaku, belum sempat keinginan untuk menjadi seorang penulis melintas sedikitpun di fikiranku. Jawabanku saat itu sangat standar. "Aku ingin menjadi seorang pilot!" Hahaha, aku tertawa jika teringat kejadian itu. Jangankan menjadi seorang pilot, sampai sekarangpun aku belum pernah naik pesawat.

Tapi setidaknya aku pernah naik pesawat, walaupun hanya wahana pesawat-pesawatan yang ada di pasar malam. Ah, pasar malam. Aku jadi teringat ketika pertama kali bapak mengajakku pergi ke pasar malam. Malam hari. Alun-alun kota. Ditengah banjir lautan manusia, tangan kiri bapak tak pernah lepas menggandeng tangan kananku. Tangan kiriku tak pernah lepas menggenggam gulali merah yang enak sekali rasanya.

Hem, gulali merah. Jika bapak mengajakku pergi ke pasar malam, aku selalu minta dibelikan gulali merah. Aku hanya mau gulali yang berwarna merah. Tidak mau yang hijau. Tidak mau yang putih. Tidak mau yang ungu. Juga tidak mau yang kuning. Aku hanya mau gulali yang berwarna merah karena aku suka warna merah. Aku suka warna merah karena jika setiap aku melihat film Power Ranger, selalu saja Power Ranger merahlah yang terlihat lebih keren diantara Power Ranger yang lainnya. Dan aku akan menangis sekencang-kencangnya jika ternyata gulali yang berwarna merah sudah habis terjual. Kalau aku sudah menangis seperti itu bapak punya jurus andalan untuk meredam tangisku. Sambil tersenyum tersenyum menggoda ia akan berkata, "Mau jadi Power Ranger kok nangis."

"Puhhh..."

Aku makin terjebak dalam kepulan-kepulan asap rokok yang semakin memenuhi kamarku. Aku juga masih terjebak dalam kenangan pasar malam masa kecilku. Sungguh suasana yang khas. Dalam kerlap-kerlip lampu warna-warni yang dipancarkan berbagai macam wahana, para pedagang pakaian hanyut dalam kesibukannya masing-masing. Para pedagang pakaian sibuk menata baju-baju, celana-celana, juga celana dalam-celana dalam yang mereka tawarkan dengan berbagai macam variasi potongan harga. Aku dan bapak berhenti di depan tumpukan celana dalam-celana dalam yang ditumpuk asal-asalan. Aku mau menagih janjiku. Kemarin bapak bilang mau membelikanku celana dalam bergambar Pokemon, kartun kesukaanku, sebagai hadiah ulang tahunku.

"Puhhh..."

Aku tersenyum teringat kejadian itu. Aku tersenyum teringat kenangan-kenanganku bersama celana dalam kesayanganku itu. Ah, celana dalam kesayanganku, dimanakah dirimu kini berada. Apa kau ingat betapa dulu aku sangat menyayangimu. Aku begitu membanggakanmu. Sampai-sampai ibu sering jengkel padaku hanya karena dulu aku sering pergi bermain tanpa menggunakan celana. Hanya celana dalam. Hanya kamu. Celana dalam bergambar Pokemon kesayanganku. Aku ingin teman-temanku tahu. Aku ingin mereka mengenalmu. Sebagai celana dalam kesayanganku.

Hei celana dalamku, pasti kau ingat sebuah kejadian yang membuat teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Saat itu, aku sedang asyik-asyiknya berlenggak-lenggok memamerkanmu di depan teman-temanku. Aku bagaikan seorang model profesional yang berjalan di atas panggung memamerkan sebuah maha karya desainer terkenal. Tiba-tiba dari arah belakangku ibu berlari dan berteriak-teriak sambil membawa celana. "Hei anak nakal! Pakai celanamu!" Melihat ada sesuatu yang mengancam kemesraan kita, aku berlari sekencang-kencangnya.

"Hei anak nakal! Kalau kau tak kemari, akan aku bakar celana dalammu itu!" Aku berhenti berlari. Aku menyerah. Aku kalah dengan ancaman ibu. Ibu menjewerku. Aku dipaksanya untuk mengenakan celana yang tadi ia bawa. Teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Aku malu. Aku sangat malu. Tapi setidaknya ibu tidak jadi membakarmu.

"Puhhh.."

Celana dalam. Aku membayangkan jika seandainya aku terlahir sebagai celana dalam. Bukankah menjadi sepotong celana dalam membutuhkan sebuah pengorbanan yang begitu besar? Tugas kita adalah memeluk dan menjaga barang agung milik manusia yang bernama kemaluan. Melindunginya bila siang terlalu banyak menyirami bumi dengan panas sinarnya. Menghangatkannya bila malam terlalu kencang menghembuskan dingin nafasnya. Dan memeluknya erat bila langit terlalu bersemangat memuntahkan hujan.

Begitu besar pengorbanan dan pengabdian celana dalam kepada kemaluan. Hingga akhirnya tumbuh merekah bunga-bunga cinta diantara mereka berdua. Mungkin karena mereka terbiasa bersama. Memang cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Kisah cinta mereka menjadi kisah cinta paling romantis mengalahkan kisah cinta Romeo and Juliet, roman klasik karya William Shakespeare, yang banyak orang bilang merupakan kisah cinta paling romantis di sepanjang masa.

Kisah cinta celana dalam dan kemaluan yang begitu tulus dan romantis akhirnya menjadi inspirasi bagi penulis muda Paulo Kazao untuk menulis novel pertamanya yang berjudul Underwear Love Story yang berhasil menjadi international bestseller dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selain telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, Underwear Love Story juga telah menjadi bacaan wajib di berbagai negara.

Kritikus-kritikus sastra sibuk meneliti dan mengkajinya dengan berbagai teori sastra. Dosen-dosen sastra dan guru-guru bahasa Indonesia sibuk mengagung-agungkannya di depan siswa-siswanya yang hanya bisa melongo dan ngangguk-ngangguk saja. Mahasiswa-mahasiswa sastra semester akhir berlomba-lomba mengkaji dan meneliti dengan teori seadanya dan asal-asalan untuk skripsi, syarat akhir kelulusan mereka.

”Puhhh..."

Underwear Love Story menjadi fenomena. Underwear Love Story menginspirasi pasangan-pasangan di dunia. Mereka berjanji kepada pasangan mereka masing-masing untuk selalu cinta dan setia seperti pengabdian celana dalam kepada kemaluan. Celana dalam menjadi sangat populer seiring terbitnya Underwear Love Story. Celana dalam menjadi hadiah paling romantis yang ditunggu seseorang dari pasangannya. Celana dalam menjadi hadiah paling favorit yang ditunggu-tunggu seluruh umat manusia di hari ulang tahun mereka.

Negara-negara di seluruh belahan dunia berlomba-lomba memproduksi celana dalam dengan berbagai variasi model dan desainnya. Produktivitas produksi celana dalam menjadi tolak ukur majunya sebuah negara. Celana dalam menjadi lambang kesuksesan. Celana dalam menjadi lambang cinta dan kesetiaan. Klub-klub sepakbola menjadikan celana dalam sebagai logo kebanggaannya.

Semua partai politik yang tidak mau kalah dalam pemilu juga menjadikan celana dalam sebagai logo kebanggan partainya. Hingga dimana tiba saatnya hari pemilu, jalanan penuh dengan celana dalam yang dikibar-kibarkan. Orang-orang berkampaye dengan celana dalam. Orasi-orasi menjanjikan celana dalam. Dimana-mana celana dalam dibagikan. Dimana-mana celana dalam menjadi sogokan. Partai yang membagikan celana dalam yang paling banyaklah yang akhirnya menjadi pemenangnya.

"Puhhh..."

Underwear Love Story semakin menjadi fenomena ketika sutradara terwahid di dunia, John Well, mengadaptasi Underwear Love Story menjadi film terbarunya, Underwear Love Story the Movie. Film ini tidak kalah sukses dari novelnya, Underwear Love Story the Movie berhasil meraih berbagai penghargaan. Karena bukunya yang laris dan berhasil menginspirasi banyak orang, Paulo Kazao berhasil memperoleh Hadiah Nobel Kesusastraan. Paulo Kazao menjadi satu-satunya peraih nobel yang berhasil memperoleh nobel hanya dari buku pertama yang ditulisnya.

"Puhhh..."

Kepulan asap rokok makin kurang ajar mengeroyokku. Dadaku sesak. Aku batuk-batuk. Aku terpaksa membuka pintu kamarku. Angin malam yang berhembus lirih mulai mengusir kepulan-kepulan asap rokok ini. Kulihat layar komputer yang masih setia menyala di depanku. Kosong. Ternyata dari tadi aku belum menulis apa-apa. Aku terlalu asyik melamun. Padahal malam ini aku sudah berniat untuk menulis sebuah cerita. Kulirik bungkus rokok yang tergeletak. Kosong. Ternyata ini rokok terakhirku.

"Puhhh..."

Aku kembali teringat Paulo Kazao...

Tongkat Sihir


 Hari ini tidak seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah dibuat repot oleh kemaluanku yang hilang entah kemana. Apa aku lupa menaruhnya? Aku rogoh saku kanan celanaku, tak kutemukan kemaluanku. Aku rogoh saku kiri celanaku, tak kutemukan juga kemaluanku. Aku rogoh saku belakang celanaku, hanya ada dompetku. Awalnya ada niatan untuk memeriksa isi dompetku, tapi kelihatannya hanya akan menjadi sia-sia. Jangankan kemaluanku, uang sepersen pun tidak pernah betah tinggal di dalam dompetku.

Aku masih terus mencari kemaluanku. Aku cari di bawah bantal, aku cari di kolong tempat tidurku, bahkan sudah aku buka dan aku keluarkan seluruh isi lemari pakaianku, tapi tetap saja tak kutemukan kemaluanku. Oh, kemaluanku apa salah dan dosaku hingga akhirnya kau pergi meninggalkanku? Bagai matahari pagi yang terbit di balik setiap gunung yang digambarkan anak-anak kecil, kecemasan juga mulai terbit di fikiranku. Tanpa berfikir lama, segera kuambil ponselku.

"Hai bung, ada apa? Kok tumben pagi-pagi gini telpon? Pasti mau titip absen ya?
Hahaha....."

"Ah, sial kau ton malah ketawa! Aku lagi ada masalah ini ton. Serius!"

"Hei, santailah bung. Lagi ada masalah apa kau? Kok kayaknya gawat sekali ini."

"Kemaluanku hilang ton."

"Ha? Hahahahahaha....!"

"Ah, sial kau ton malah ketawa lagi! Serius ini ton. Gimana ini ton?"

"Hahahahahaha.... Kau sih pelupa. Coba kau ingat-ingat, dimana terakhir kali kau
 menaruhnya."

"Sudah ton, sudah. Aku sudah cari dimana-mana, tapi tetap tak kutemukan juga. Lalu
bagaimana ini ton?"

"Coba kau siarkan saja berita kehilangan kemaluanmu ini lewat speaker masjid dekat
rumahmu, seperti berita-berita lelayu. Nanti semua orang akan tahu dan yang
menemukannya bisa langsung mengembalikannya ke rumahmu. Siapa tahu
kemaluanmu terjatuh di jalan dan ditemukan orang. Hahahahahaha......"

Ku matikan ponselku. Memang brengsek si Toni itu. Bukannya membantu, tapi malah menambah beban di fikiranku. Kecemasan masih saja enak-enakan nongkrong di fikiranku. Aku putuskan untuk bertanya kepada ibu. Cepat-cepat aku menuju kamar ibuku. Saking cemasnya, ibu yang kulihat sedang tertidur pulas aku guncang-guncangkan tempat tidurnya, sampai-sampai ibu terjatuh. Kepala ibu bocor karena terbentur tembok.

Aku semakin cemas saat melihat darah meluncur deras dari kepala ibu. Tapi tanpa merasa bersalah aku bertanya kepada ibu, "Ibu, mengapa kau benturkan kepalamu ke tembok itu? Apa kau tak percaya bahwa tembok itu keras, sehingga kau ingin membuktikannya dengan membenturkan kepalamu ke tembok itu?"

Ibu hanya tersenyum.

Seperti itulah ibuku. Ibu selalu menjawab segala kecemasanku dengan senyumannya. Namun anehnya, cukup hanya dengan melihat senyum itu aku merasa segala kecemasanku hilang. Aneh bukan? Aku sering bertanya-tanya kenapa senyum ibu bisa seampuh itu kepadaku. Apa mungkin dulu ibu pernah tidak sengaja menelan tongkat sihir, sehingga senyumannya dapat menyihir semua orang yang melihatnya? Aku rasa ini jawaban yang benar, karena dulu ayahku juga pernah bercerita bahwa ia jatuh cinta kepada ibuku juga karena senyumannya.

Kecemasan tentang kemaluanku yang hilang lagi-lagi nongkrong di fikiranku. Kali ini ia benar-benar memenuhi isi otakku. Kecemasan-kecemasan itu akhirnya tumpah membludak dan lama-kelamaan membanjiri kamar ibuku. Ibuku yang hampir kehabisan nafas karena tenggelam dalam kecemasanku itu, akhirnya tak hanya bisa lagi tersenyum seperti biasanya. Kecemasan mulai berubah menjadi penyakit yang berbahaya, dan ibukulah korban pertamanya. Ibu yang sedari tadi hanya berlindung di balik perisai senyumannya, kini mulai terdengar suara indahnya.

"Sebenarnya kau ada apa nak? tidak biasanya kamu secemas ini."

"Kemaluanku hilang bu!" Aku menangis memeluknya.

"Loh, kok bisa hilang? sudah kau cari di dalam celana dalammu?"

"Sudah bu. Sudah berulang kali dan belum juga ketemu."

"Di celana dalammu yang lainnya? mungkin saja ia tercecer bersama celana dalam
 kotormu yang kemarin dicuci."

"Tidak ada bu. Mbok yem sudah aku suruh mencarinya di semua celana dalamku, tapi
tetap tidak ketemu juga bu."

"Sudah kau tanyakan pada ayahmu? biasanya kan kemaluanmu sering main ke celana
dalam ayahmu untuk sekedar silaturahmi dan sungkem kepada kemaluannya
ayahmu. Coba tanyalah dulu sama ayahmu."

Tanpa menjawab ibu, aku segera menemui ayahku yang saat itu sedang asyik membaca koran sambil sesekali meneguk teh hangat di tangannya. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya.

"Ayah, kau tahu dimana kemaluanku?"

"Hahahahahaha....!"

Ayah malah tertawa terbahak-bahak. Teh hangat yang di pegangnya hampir tumpah karenanya. Aku jelas merasa heran sekaligus kesal karena ayah malah menanggapi kecemasanku ini dengan tawanya yang mengejekku. Sadar dengan anaknya yang mulai merasa kesal, sambil mencoba menahan tawanya ayahku segera menyodorkan kepadaku bungkusan tas plastik hitam yang tidak aku ketahui isinya.

Tanpa berfikir lama, segera saja aku buka tas plastik hitam yang tidak aku ketahui isinya itu. Aku terkejut karena ternyata isi tas plastik hitam itu adalah barang yang sedari tadi aku cari. Melihat raut wajahku yang tiba-tiba saja berubah, lagi-lagi ayah tertawa terbahak-bahak.

"Itu tadi titipan dari mbak Dewi, janda baru tetangga kita." Ayah sengaja menahan tawanya, ia menunggu jawaban dariku. Jelas, ia sedang mengejekku.

Tenggorokanku terasa tersumbat oleh rasa malu yang begitu dahsyat, seakan-akan menghalangi jalan keluar bagi jawaban-jawaban palsuku. Jawaban-jawaban palsu yang ingin kugunakan untuk membela diriku dari rasa malu ini. Meski berusaha berulang kali untuk menjawabnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku kalah. Tanpa komando kepalaku tertunduk, tanda menyerah. Kali ini aku benar-benar tidak dapat menjawabnya.

"Sudah, tidak perlu malu. Lagipula banyak sekali yang tertinggal disana, bukan hanya punyamu saja. Memang disana tempatnya enak dan nyaman, makanya banyak sekali kemaluan para lelaki yang tertinggal disana. Mungkin mereka betah tinggal disana, sehingga tidak mau diajak pulang. Hahahahaha....."

Lagi-lagi aku terkejut. Aku menatap mata ayah dalam-dalam. Sorot mataku jelas mengandung banyak pertanyaan. Ayah sadar aku mencurigainya. Tiba-tiba ia mengerem tawanya. Dengan tenang ia meletakkan teh hangat yang sedari tadi masih dipegangnya di atas meja di samping kanannya, berjejer dengan korannya. Lalu dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dengan wajahnya yang mulai memerah ayah berbisik.

"Kemarin punya ayah juga tertinggal disana."

Tanpa bersepakat terlebih dahulu, juga tanpa aba-aba aku dan ayah dengan kompak tertawa bersamaan. Suara tawa kami menggelegar bagai petir yang menyambar-nyambar apa saja yang ditemuinya. Tanpa kami ketahui, tawa kami ternyata juga menyambar perhatian ibu yang tiba-tiba saja langsung datang dan bertanya ada apa dengan kami.

Kami hanya tersenyum. Ibu hanya bisa diam. Mungkin sekarang ibu sedang berfikir bahwa aku dan ayah telah menelan tongkat sihir, sehingga senyum kami dapat menyihir siapa saja yang melihatnya. Ibu sangat yakin dengan jawabannya.

Minggu, 25 Maret 2012

Wanita Embun


"(mungkin) adalah sebuah moment dimana aku baru sadar bahwa aku mencintaimu."


"Nak , memang semua manusia di dunia ini diciptakan Tuhan dari tanah surga yang konon katanya sangat subur. Tanah yang bisa kau tanami tumbuhan apa saja. Bahkan konon katanya di surga sana, pohon yang telah tumbuh tak pernah lelah berhenti berbuah. Juga bunga-bunga yang tak pernah bosan bermekaran, seakan saling ingin menunjukkan siapa yang paling indah diantara mereka. Namun ada beberapa wanita yang tidak Tuhan ciptakan dari tanah seperti yang lainnya. Mereka adalah wanita-wanita pilihan Tuhan, yang beruntung diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Embun-embun yang menyegarkan surga di setiap paginya, di setiap harinya. Dan asal kau tahu nak, konon katanya tanah di surga terkenal subur karena setiap paginya Tuhan tak pernah lupa menyiraminya dengan embun-embun pagi yang sengaja ia jatuhkan dari dedaunan. Dengan nafas-Nya sendiri sengaja Tuhan meniupkan embun-embun agar jatuh dan berlinangan, bagai air mata ibu yang berguguran, tumpah karena luapan  kasih sayang."
Saat aku kecil sebelum tidurku, aku selalu meminta ibu untuk menceritakan dongeng itu. Dongeng tentang wanita-wanita yang diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Entah mengapa dari sekian banyak dongeng yang pernah ibu ceritakan, aku hanya selalu tertarik dengan dongeng tentang wanita embun itu. Pernah ibu bertanya padaku mengapa aku tidak pernah bosan dengan cerita itu. Namun akhirnya ibu hanya tersenyum melihatku hanya bisa diam tertunduk karena tak tahu harus menjawab apa.
"Bu, seperti apa wajah wanita embun yang ibu ceritakan itu? Apakah ia cantik seperti ibu peri yang sering aku lihat di televisi?"
Ibu hanya tersenyum saat melihat kerut di keningku muncul begitu saja karena tak sabar menunggu jawaban darinya. Setelah mengecup keningku dan membelai rambutku, ibu mulai menjawab pertanyaanku.
"Iya nak, ia seperti ibu peri yang sering kau lihat di televisi. Ia sangat cantik dan baik hati. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang terang namun menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan. Seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hatimu ketika kau tersesat di telan kegelapan. Suaranya juga begitu lembut dan menyejukkan. Seperti semilir angin yang mengusap lembut wajahmu, seperti merdu suara bidadari yang menina bobokkanmu. Tapi ia tak punya sepasang sayap putih dan tongkat sihir seperti ibu peri yang kau lihat itu nak. Ia hanya punya senyuman. Ya, hanya dengan senyumannya saja, ia akan dapat mengabulkan semua keinginanmu. Semua keinginanmu, nak."
*****
"War, kamu kenapa diem aja? sakit?"
Suara itu. Suara itu begitu lembut, ia bagaikan semilir angin pagi yang menyapa dedaunan. Aku yang sedari tadi terlelap dalam kenangan masa laluku akhirnya terbangun, ketika suara lembut itu hinggap di telingaku.
"Eh, enggak papa kok yuk. Maaf, sampai mana tadi ya?"
Melihat aku yang begitu susah mencari jawaban, ia hanya tersenyum. Ah, senyum itu. Aku selalu dibuat kagum olehnya. Senyum itu bagai kepak sayap sepasang kupu-kupu yang berterbangan. Senyum itu membuatku lupa akan panas matahari yang sedari tadi menyengatku.
"Yuk, bukunya bagus kan?" Untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku, aku coba tunjukkan kepadanya buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, buku yang baru saja aku beli bersamanya.
"Iya war, bagus. Kan sampulnya meling-meling, hahaha."
"Hahahahaha" Mendengar jawabannya, aku pun jadi ikut tertawa.
Suasana kini dipenuhi dengan tawa. Aku jadi teringat ketika ia bertanya tentang alasanku membeli buku itu. Aku yang sebenarnya sama sekali tidak tahu buku itu, menjawab asal. Saat itu aku bilang kepadanya bahwa aku tertarik membeli buku itu karena sampulnya yang meling-meling.
Kami terus larut dalam canda dan tawa. Di depan kami terhampar lautan motor dan mobil. Setiap detik ada saja yang datang untuk meninggalkan motornya disana, juga setiap detik ada saja yang datang untuk mengambil motornya kembali. Matahari semakin panas menyengat tubuh kami, mungkin ia cemburu melihat kebersamaan kami. Seakan tak peduli dengan kecemburuan matahari, kami terus saja larut dalam canda dan tawa.
Pada sebuah kesempatan, mata kami bertemu. Aku baru sadar, ternyata mata itu sama saja seperti senyumannya. Mata itu begitu bulat dan indah, mengingatkanku pada kelereng warna-warni di masa kecilku. Dulu aku sangat senang mengumpulkan kelereng-kelereng yang berwarna indah. Namun, dari sekian banyak koleksi kelerengku, tentu saja tidak ada satupun kelereng yang seindah matanya.
Mata itu sama dengan mata wanita embun yang dahulu pernah ibu ceritakan. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan, seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hati ketika kita takut saat tersesat di telan kegelapan. Matanya adalah senja, redup sinarnya namun begitu menghangatkan. Senja adalah matanya, lembut sinarnya membawaku hanyut dalam sebuah kenangan.
*****
"Nak, mungkin suatu saat nanti kau akan bertemu dengannya, seorang wanita yang Tuhan ciptakan dari embun surga. Jika kau bertemu dengannya, jagalah ia baik-baik. Ia bagaikan hujan yang menghapus kemarau panjang. Ia adalah setetes embun yang akan menyelamatkanmu dari dahaga kehidupan. Jagalah ia nak. Jangan sampai panas matahari menguapkannya, dan menjadikannya hujan pada tiap sudut matamu."
*****
"War, kamu kenapa lagi?"
Sekali lagi suara lembut itu menyadarkanku. Aku tersenyum melihatnya. Aku tersenyum ketika melihat ribuan kunang-kunang yang berhamburan dari tiap sudut matanya. Ribuan kunang-kunang itu terbang menghampiriku. Mereka menyeretku, membawaku terbang ke dalam kenangan dongeng masa kecilku.
"Eh, enggak papa kok yuk. Aku hanya teringat janjiku kepada ibu."
"Ha? Janji apa war?"
"Janji untuk menjaga seorang wanita embun yang suatu saat nanti kutemui."
"Ha? Wanita embun? Apa itu war?"
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Ribuan kunang-kunang kembali menyeretku terbang ke dalam kenangan dongeng masa kecilku.
*****
Sepasang Kekasih Dalam Sebuah Buku Dongeng
-kepada Ayuningtyas

sayang, kita harus ingat
kita hanyalah sepasang kekasih
yang terkurung dalam sebuah buku dongeng
menanti rengekan seorang bocah
yang minta dibacakan cerita oleh ibunya
sebagai pengantar tidur

tak ada yang istimewa dari kisah kita
seperti biasa: seorang miskin yang berharap
cinta dari sang putri raja
tak ada yang istimewa dari cerita kita
seperti biasa: bocah itu tertidur
sebelum habis cerita kita dibacakan ibunya

tak ada yang istimewa dari hari-hari selanjutnya
seperti biasa: kita menanti untuk dibaca
kita menangis karena tak selesai dibaca
tak ada yang istimewa dari hari-hari berikutnya
seperti biasa: kita menanti untuk dibaca
kita menanti di halaman mana kita berjumpa


23 Maret 2012
Selamat ulang tahun ya mbun :)