"(mungkin) adalah sebuah moment dimana aku baru sadar bahwa aku mencintaimu."
"Nak , memang semua manusia di dunia ini diciptakan Tuhan dari tanah surga yang konon katanya sangat subur. Tanah yang bisa kau tanami tumbuhan apa saja. Bahkan konon katanya di surga sana, pohon yang telah tumbuh tak pernah lelah berhenti berbuah. Juga bunga-bunga yang tak pernah bosan bermekaran, seakan saling ingin menunjukkan siapa yang paling indah diantara mereka. Namun ada beberapa wanita yang tidak Tuhan ciptakan dari tanah seperti yang lainnya. Mereka adalah wanita-wanita pilihan Tuhan, yang beruntung diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Embun-embun yang menyegarkan surga di setiap paginya, di setiap harinya. Dan asal kau tahu nak, konon katanya tanah di surga terkenal subur karena setiap paginya Tuhan tak pernah lupa menyiraminya dengan embun-embun pagi yang sengaja ia jatuhkan dari dedaunan. Dengan nafas-Nya sendiri sengaja Tuhan meniupkan embun-embun agar jatuh dan berlinangan, bagai air mata ibu yang berguguran, tumpah karena luapan kasih sayang."
Saat aku kecil sebelum tidurku, aku selalu meminta ibu untuk menceritakan dongeng itu. Dongeng tentang wanita-wanita yang diciptakan Tuhan dari embun-embun surga. Entah mengapa dari sekian banyak dongeng yang pernah ibu ceritakan, aku hanya selalu tertarik dengan dongeng tentang wanita embun itu. Pernah ibu bertanya padaku mengapa aku tidak pernah bosan dengan cerita itu. Namun akhirnya ibu hanya tersenyum melihatku hanya bisa diam tertunduk karena tak tahu harus menjawab apa.
"Bu, seperti apa wajah wanita embun yang ibu ceritakan itu? Apakah ia cantik seperti ibu peri yang sering aku lihat di televisi?"
Ibu hanya tersenyum saat melihat kerut di keningku muncul begitu saja karena tak sabar menunggu jawaban darinya. Setelah mengecup keningku dan membelai rambutku, ibu mulai menjawab pertanyaanku.
"Iya nak, ia seperti ibu peri yang sering kau lihat di televisi. Ia sangat cantik dan baik hati. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang terang namun menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan. Seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hatimu ketika kau tersesat di telan kegelapan. Suaranya juga begitu lembut dan menyejukkan. Seperti semilir angin yang mengusap lembut wajahmu, seperti merdu suara bidadari yang menina bobokkanmu. Tapi ia tak punya sepasang sayap putih dan tongkat sihir seperti ibu peri yang kau lihat itu nak. Ia hanya punya senyuman. Ya, hanya dengan senyumannya saja, ia akan dapat mengabulkan semua keinginanmu. Semua keinginanmu, nak."
*****
"War, kamu kenapa diem aja? sakit?"
Suara itu. Suara itu begitu lembut, ia bagaikan semilir angin pagi yang menyapa dedaunan. Aku yang sedari tadi terlelap dalam kenangan masa laluku akhirnya terbangun, ketika suara lembut itu hinggap di telingaku.
"Eh, enggak papa kok yuk. Maaf, sampai mana tadi ya?"
Melihat aku yang begitu susah mencari jawaban, ia hanya tersenyum. Ah, senyum itu. Aku selalu dibuat kagum olehnya. Senyum itu bagai kepak sayap sepasang kupu-kupu yang berterbangan. Senyum itu membuatku lupa akan panas matahari yang sedari tadi menyengatku.
"Yuk, bukunya bagus kan?" Untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku, aku coba tunjukkan kepadanya buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, buku yang baru saja aku beli bersamanya.
"Iya war, bagus. Kan sampulnya meling-meling, hahaha."
"Hahahahaha" Mendengar jawabannya, aku pun jadi ikut tertawa.
Suasana kini dipenuhi dengan tawa. Aku jadi teringat ketika ia bertanya tentang alasanku membeli buku itu. Aku yang sebenarnya sama sekali tidak tahu buku itu, menjawab asal. Saat itu aku bilang kepadanya bahwa aku tertarik membeli buku itu karena sampulnya yang meling-meling.
Kami terus larut dalam canda dan tawa. Di depan kami terhampar lautan motor dan mobil. Setiap detik ada saja yang datang untuk meninggalkan motornya disana, juga setiap detik ada saja yang datang untuk mengambil motornya kembali. Matahari semakin panas menyengat tubuh kami, mungkin ia cemburu melihat kebersamaan kami. Seakan tak peduli dengan kecemburuan matahari, kami terus saja larut dalam canda dan tawa.
Pada sebuah kesempatan, mata kami bertemu. Aku baru sadar, ternyata mata itu sama saja seperti senyumannya. Mata itu begitu bulat dan indah, mengingatkanku pada kelereng warna-warni di masa kecilku. Dulu aku sangat senang mengumpulkan kelereng-kelereng yang berwarna indah. Namun, dari sekian banyak koleksi kelerengku, tentu saja tidak ada satupun kelereng yang seindah matanya.
Mata itu sama dengan mata wanita embun yang dahulu pernah ibu ceritakan. Matanya bersinar namun tidak begitu terang. Tidak seperti sinar matahari yang menyilaukan. Sinarnya begitu lembut dan menyejukkan, seperti sinar kunang-kunang yang mendamaikan hati ketika kita takut saat tersesat di telan kegelapan. Matanya adalah senja, redup sinarnya namun begitu menghangatkan. Senja adalah matanya, lembut sinarnya membawaku hanyut dalam sebuah kenangan.
*****
"Nak, mungkin suatu saat nanti kau akan bertemu dengannya, seorang wanita yang Tuhan ciptakan dari embun surga. Jika kau bertemu dengannya, jagalah ia baik-baik. Ia bagaikan hujan yang menghapus kemarau panjang. Ia adalah setetes embun yang akan menyelamatkanmu dari dahaga kehidupan. Jagalah ia nak. Jangan sampai panas matahari menguapkannya, dan menjadikannya hujan pada tiap sudut matamu."
*****
"War, kamu kenapa lagi?"
Sekali lagi suara lembut itu menyadarkanku. Aku tersenyum melihatnya. Aku tersenyum ketika melihat ribuan kunang-kunang yang berhamburan dari tiap sudut matanya. Ribuan kunang-kunang itu terbang menghampiriku. Mereka menyeretku, membawaku terbang ke dalam kenangan dongeng masa kecilku.
"Eh, enggak papa kok yuk. Aku hanya teringat janjiku kepada ibu."
"Ha? Janji apa war?"
"Janji untuk menjaga seorang wanita embun yang suatu saat nanti kutemui."
"Ha? Wanita embun? Apa itu war?"
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Ribuan kunang-kunang kembali menyeretku terbang ke dalam kenangan dongeng masa kecilku.
*****
Sepasang Kekasih Dalam Sebuah Buku Dongeng
-kepada Ayuningtyas
sayang, kita harus ingat
kita hanyalah sepasang kekasih
yang terkurung dalam sebuah buku dongeng
menanti rengekan seorang bocah
yang minta dibacakan cerita oleh ibunya
sebagai pengantar tidur
tak ada yang istimewa dari kisah kita
seperti biasa: seorang miskin yang berharap
cinta dari sang putri raja
tak ada yang istimewa dari cerita kita
seperti biasa: bocah itu tertidur
sebelum habis cerita kita dibacakan ibunya
tak ada yang istimewa dari hari-hari selanjutnya
seperti biasa: kita menanti untuk dibaca
kita menangis karena tak selesai dibaca
tak ada yang istimewa dari hari-hari berikutnya
seperti biasa: kita menanti untuk dibaca
kita menanti di halaman mana kita berjumpa
23 Maret 2012
Selamat ulang tahun ya mbun :)

ini pasti istimewa
BalasHapus