"hujan yang mengetuk jendela kamarmu"
Sebelum kita terlalu larut dalam basa basi yang terlampau basi, izinkan aku mengecup
keningmu sebelum kecupan malam kemarin hilang tersapu angin.
Jika tak dapat kau raba lagi jejak langkahku pada tanah basah setelah hujan
malam ini reda, maka tidurlah dan biarkan dingin pagi yang esok membangunkanmu.
Lalu begegaslah kau singkap tirai jendela kamarmu karena sudah kutitipkan pesan
pada rintik hujan yang menetes pada kaca jendela itu.
Sebelum kita terlalu larut dalam basa basi yang terlanjur basi, juga sebelum kau bosan
dengan kecupan-kecupanku yang lekas hilang terhapus angin, maka kutuliskan
puisi cintaku ini lewat rintik hujan pagi yang menetes pada kaca jendela kamarmu. Tak usah
kau takut jika puisi itu hilang tersapu angin, karena akan kukirimkan puisi-puisi cintaku
yang lainnya. Seperti biasa: lewat rintik hujan di pagi hari, atau sesekali lewat deras hujan di
malam hari. Saat kau dengar hujan yang mengetuk jendela kamarmu, bukalah, dan biarkan aku
masuk sebelum angin menyapuku.
Hilang.
Yogyakarta, 13 Maret 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar