Hari ini tidak seperti biasanya, pagi-pagi
aku sudah dibuat repot oleh kemaluanku yang hilang entah kemana. Apa aku lupa
menaruhnya? Aku rogoh saku kanan celanaku, tak kutemukan kemaluanku. Aku rogoh
saku kiri celanaku, tak kutemukan juga kemaluanku. Aku rogoh saku belakang
celanaku, hanya ada dompetku. Awalnya ada niatan untuk memeriksa isi dompetku, tapi
kelihatannya hanya akan menjadi sia-sia. Jangankan kemaluanku, uang sepersen
pun tidak pernah betah tinggal di dalam dompetku.
Aku masih terus mencari kemaluanku. Aku cari di bawah bantal, aku cari di kolong tempat tidurku, bahkan sudah aku buka dan aku keluarkan seluruh isi lemari pakaianku, tapi tetap saja tak kutemukan kemaluanku. Oh, kemaluanku apa salah dan dosaku hingga akhirnya kau pergi meninggalkanku? Bagai matahari pagi yang terbit di balik setiap gunung yang digambarkan anak-anak kecil, kecemasan juga mulai terbit di fikiranku. Tanpa berfikir lama, segera kuambil ponselku.
"Hai bung, ada apa? Kok tumben pagi-pagi gini telpon? Pasti mau titip absen ya?
Hahaha....."
"Ah, sial kau ton malah ketawa! Aku lagi ada masalah ini ton. Serius!"
"Hei, santailah bung. Lagi ada masalah apa kau? Kok kayaknya gawat sekali ini."
"Kemaluanku hilang ton."
"Ha? Hahahahahaha....!"
"Ah, sial kau ton malah ketawa lagi! Serius ini ton. Gimana ini ton?"
"Hahahahahaha.... Kau sih pelupa. Coba kau ingat-ingat, dimana terakhir kali kau
menaruhnya."
"Sudah ton, sudah. Aku sudah cari dimana-mana, tapi tetap tak kutemukan juga. Lalu
bagaimana ini ton?"
"Coba kau siarkan saja berita kehilangan kemaluanmu ini lewat speaker masjid dekat
rumahmu, seperti berita-berita lelayu. Nanti semua orang akan tahu dan
yang
menemukannya bisa langsung
mengembalikannya ke rumahmu. Siapa tahu
kemaluanmu terjatuh di jalan dan
ditemukan orang. Hahahahahaha......"
Ku matikan ponselku. Memang brengsek si Toni itu. Bukannya membantu, tapi malah menambah beban di fikiranku. Kecemasan masih saja enak-enakan nongkrong di fikiranku. Aku putuskan untuk bertanya kepada ibu. Cepat-cepat aku menuju kamar ibuku. Saking cemasnya, ibu yang kulihat sedang tertidur pulas aku guncang-guncangkan tempat tidurnya, sampai-sampai ibu terjatuh. Kepala ibu bocor karena terbentur tembok.
Aku semakin cemas saat melihat darah meluncur deras dari kepala ibu. Tapi tanpa merasa bersalah aku bertanya kepada ibu, "Ibu, mengapa kau benturkan kepalamu ke tembok itu? Apa kau tak percaya bahwa tembok itu keras, sehingga kau ingin membuktikannya dengan membenturkan kepalamu ke tembok itu?"
Ibu hanya tersenyum.
Seperti itulah ibuku. Ibu selalu menjawab segala kecemasanku dengan senyumannya. Namun anehnya, cukup hanya dengan melihat senyum itu aku merasa segala kecemasanku hilang. Aneh bukan? Aku sering bertanya-tanya kenapa senyum ibu bisa seampuh itu kepadaku. Apa mungkin dulu ibu pernah tidak sengaja menelan tongkat sihir, sehingga senyumannya dapat menyihir semua orang yang melihatnya? Aku rasa ini jawaban yang benar, karena dulu ayahku juga pernah bercerita bahwa ia jatuh cinta kepada ibuku juga karena senyumannya.
Kecemasan tentang kemaluanku yang hilang lagi-lagi nongkrong di fikiranku. Kali ini ia benar-benar memenuhi isi otakku. Kecemasan-kecemasan itu akhirnya tumpah membludak dan lama-kelamaan membanjiri kamar ibuku. Ibuku yang hampir kehabisan nafas karena tenggelam dalam kecemasanku itu, akhirnya tak hanya bisa lagi tersenyum seperti biasanya. Kecemasan mulai berubah menjadi penyakit yang berbahaya, dan ibukulah korban pertamanya. Ibu yang sedari tadi hanya berlindung di balik perisai senyumannya, kini mulai terdengar suara indahnya.
"Sebenarnya kau ada apa nak? tidak biasanya kamu secemas ini."
"Kemaluanku hilang bu!" Aku menangis memeluknya.
"Loh, kok bisa hilang? sudah kau cari di dalam celana dalammu?"
"Sudah bu. Sudah berulang kali dan belum juga ketemu."
"Di celana dalammu yang lainnya? mungkin saja ia tercecer bersama celana dalam
kotormu yang kemarin dicuci."
"Tidak ada bu. Mbok yem sudah aku suruh mencarinya di semua celana dalamku, tapi
tetap tidak ketemu juga bu."
"Sudah kau tanyakan pada ayahmu? biasanya kan kemaluanmu sering main ke celana
dalam ayahmu untuk sekedar silaturahmi
dan sungkem kepada kemaluannya
ayahmu. Coba tanyalah dulu sama
ayahmu."
Tanpa menjawab ibu, aku segera menemui ayahku yang saat itu sedang asyik membaca koran sambil sesekali meneguk teh hangat di tangannya. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya.
"Ayah, kau tahu dimana kemaluanku?"
"Hahahahahaha....!"
Ayah malah tertawa terbahak-bahak. Teh hangat yang di pegangnya hampir tumpah karenanya. Aku jelas merasa heran sekaligus kesal karena ayah malah menanggapi kecemasanku ini dengan tawanya yang mengejekku. Sadar dengan anaknya yang mulai merasa kesal, sambil mencoba menahan tawanya ayahku segera menyodorkan kepadaku bungkusan tas plastik hitam yang tidak aku ketahui isinya.
Tanpa berfikir lama, segera saja aku buka tas plastik hitam yang tidak aku ketahui isinya itu. Aku terkejut karena ternyata isi tas plastik hitam itu adalah barang yang sedari tadi aku cari. Melihat raut wajahku yang tiba-tiba saja berubah, lagi-lagi ayah tertawa terbahak-bahak.
"Itu tadi titipan dari mbak Dewi, janda baru tetangga kita." Ayah sengaja menahan tawanya, ia menunggu jawaban dariku. Jelas, ia sedang mengejekku.
Tenggorokanku terasa tersumbat oleh rasa malu yang begitu dahsyat, seakan-akan menghalangi jalan keluar bagi jawaban-jawaban palsuku. Jawaban-jawaban palsu yang ingin kugunakan untuk membela diriku dari rasa malu ini. Meski berusaha berulang kali untuk menjawabnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku kalah. Tanpa komando kepalaku tertunduk, tanda menyerah. Kali ini aku benar-benar tidak dapat menjawabnya.
"Sudah, tidak perlu malu. Lagipula banyak sekali yang tertinggal disana, bukan hanya punyamu saja. Memang disana tempatnya enak dan nyaman, makanya banyak sekali kemaluan para lelaki yang tertinggal disana. Mungkin mereka betah tinggal disana, sehingga tidak mau diajak pulang. Hahahahaha....."
Lagi-lagi aku terkejut. Aku menatap mata ayah dalam-dalam. Sorot mataku jelas mengandung banyak pertanyaan. Ayah sadar aku mencurigainya. Tiba-tiba ia mengerem tawanya. Dengan tenang ia meletakkan teh hangat yang sedari tadi masih dipegangnya di atas meja di samping kanannya, berjejer dengan korannya. Lalu dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dengan wajahnya yang mulai memerah ayah berbisik.
"Kemarin punya ayah juga tertinggal disana."
Tanpa bersepakat terlebih dahulu, juga tanpa aba-aba aku dan ayah dengan kompak tertawa bersamaan. Suara tawa kami menggelegar bagai petir yang menyambar-nyambar apa saja yang ditemuinya. Tanpa kami ketahui, tawa kami ternyata juga menyambar perhatian ibu yang tiba-tiba saja langsung datang dan bertanya ada apa dengan kami.
Kami hanya tersenyum. Ibu hanya bisa diam. Mungkin sekarang ibu sedang berfikir bahwa aku dan ayah telah menelan tongkat sihir, sehingga senyum kami dapat menyihir siapa saja yang melihatnya. Ibu sangat yakin dengan jawabannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar